Tanpa persiapan matang, program ini dikhawatirkan hanya jadi beban formalitas baru bagi sekolah tanpa ada dampak nyata bagi kelestarian bahasa ibu.
“Perlu ada persiapan yang matang. Jangan hanya menetapkan program, tapi bingung siapa yang mengajarkan dan bagaimana siswa mengikutinya,” pungkasnya. (ujang nandar)
