Masalah venue adalah persoalan paling nyata. Hari ini, kalau mau menggelar konser besar, penyelenggara sering kebingungan.
Tidak banyak tempat yang benar-benar layak. Kalau ada, kapasitas terbatas. Kalau luas, fasilitas kurang memadai. Kalau strategis, izinnya rumit.
Padahal venue adalah jantung dari industri event. Tanpa venue yang layak, event besar hanya akan jadi wacana. Lalu soal pungutan-pungutan itu. Ini bagian yang paling sensitif. Sering tidak tercatat. Sering tidak jelas.
Baca Juga:Pejabat Pemkab Tasikmalaya Membisu Soal Isu Cashback Pinjaman Rp230 MiliarSiswa MAN 1 Tasikmalaya Muhammad Luthfi Sabet Juara 2 di Ajang Pangalengan Track Race
Sering tidak bisa dijelaskan satu per satu. Tapi dirasakan oleh pelaku event. Dan diam-diam menggerus keuntungan mereka. Kalau dibiarkan, ini bisa menjadi penyakit kronis. Yang pelan-pelan mematikan industri event.
Padahal jika dikelola serius, event bisa menjadi sumber PAD baru yang stabil. Tidak musiman. Tidak tergantung cuaca seperti wisata alam. Tidak tergantung proyek besar.
Cukup dengan manajemen yang baik. Dan keberanian untuk berubah. Pemerintah Kota Tasikmalaya harus mulai melihat event sebagai investasi. Bukan sekadar hiburan.
Bukan sekadar keramaian sesaat. Tapi sebagai mesin ekonomi. Mesin PAD.
Mesin pertumbuhan usaha lokal. Harus ada kepastian. Harus ada standar. Harus ada sistem. Mulai dari perizinan. Penentuan venue. Pengawasan pungutan. Sampai perlindungan terhadap pelaku usaha.
Kalau semua itu bisa dilakukan, Tasik tidak perlu iri pada kota wisata. Tidak perlu menunggu pantai. Tidak perlu menunggu taman hiburan. Cukup memaksimalkan apa yang sudah ada. Karena di kota ini, potensi itu bukan tidak ada.
Potensi itu sudah ada. Hanya belum dianggap penting. Masih dianggap anak tiri. Padahal, kalau dirawat dengan benar, anak tiri itu bisa menjadi tulang punggung PAD Kota Tasikmalaya. (red)
