TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Kota Tasikmalaya tidak punya pantai. Tidak punya gunung wisata kelas nasional. Tidak juga punya taman hiburan raksasa. Tapi Kota Tasik punya satu hal yang sering diremehkan: event.
Konser musik. Festival kuliner. Pameran UMKM. Pentas seni. Itu sebenarnya tambang emas. Bisa jadi sumber PAD besar. Kalau diurus dengan benar. Masalahnya, selama ini tidak pernah diurus secara serius.
Coba bayangkan, kalau Kota Tasikmalaya punya kalender event yang rapi sepanjang tahun, hotel-hotel tidak akan sepi di akhir pekan. Warung makan akan penuh. Pedagang kaki lima ikut senyum. Parkiran padat. Dan kas daerah ikut gemuk. Itulah efek domino dari satu event.
Baca Juga:Pejabat Pemkab Tasikmalaya Membisu Soal Isu Cashback Pinjaman Rp230 MiliarSiswa MAN 1 Tasikmalaya Muhammad Luthfi Sabet Juara 2 di Ajang Pangalengan Track Race
Satu konser saja bisa menggerakkan puluhan jenis usaha. Kuliner hidup. Hotel hidup. Transportasi hidup. Penyewaan alat panggung hidup. Pedagang kecil ikut hidup. Belum lagi pajak dan retribusi yang bisa ditarik.
Semua itu seharusnya menjadi PAD yang menjanjikan. Bukan sekadar angka kecil di laporan keuangan daerah. Kota Tasikmalaya sebenarnya punya banyak keunggulan.
Kuliner yang terkenal. Hotel yang cukup banyak. Produk khas yang unik. Payung geulis. Mendong. Kerajinan tangan. Dan berbagai potensi lokal lainnya.
Semua itu sangat cocok dipadukan dengan event. Event bukan hanya soal hiburan. Event adalah etalase. Tempat memamerkan identitas kota. Tempat memperkenalkan kekuatan lokal.
Sayangnya, event di Kota Tasik sering seperti anak tiri. Dibiarkan tumbuh sendiri. Tanpa arah. Tanpa perlindungan. Tanpa kepastian. Yang ada justru cerita-cerita kecil yang membuat pelaku event mengeluh.
Soal perizinan yang panjang. Soal istilah assesment yang terasa pilih-pilih. Soal lokasi konser yang layak tapi tidak tersedia. Soal biaya-biaya tambahan yang kadang sulit dijelaskan.
Ada juga cerita tentang pungutan pungutan yang tidak jelas asal-usulnya. Cerita seperti ini mungkin terdengar kecil. Tapi dampaknya besar. Sangat besar.
Baca Juga:59 Siswa MAN 1 Tasikmalaya Lolos SPAN-PTKIN 2026Work From Cafe: Rahasia Tetap Produktif di Tengah Suasana Santai
Karena satu pengalaman buruk bisa membuat penyelenggara kapok. Dan kalau sudah kapok, mereka tidak akan kembali.
Padahal kota lain sudah mulai bergerak cepat. Mereka membangun kawasan khusus event. Menyediakan venue yang layak. Menyusun regulasi yang jelas. Membuat sistem perizinan yang sederhana. Cepat. Transparan. Tidak berbelit.Kota Tasikmalaya seharusnya bisa melakukan hal yang sama. Bahkan lebih baik.
