Presiden Napoli Minta FIFA dan UEFA Bayar Rp17 Miliar Jika Pemainnya Dipanggil Timnas Sebulan

Aurelio De Laurentiis
Aurelio De Laurentiis Foto: Instagram@officialssnapoli
0 Komentar

Menurutnya, jumlah pemain yang dipanggil ke tim nasional juga perlu dibatasi agar tidak menimbulkan kekacauan dalam tim.

“Mereka cukup memanggil 22 atau maksimal 23 pemain. Tidak perlu berlebihan. Kalau terlalu banyak, justru sulit membangun chemistry,” ujarnya.

Ia juga mengkritik keputusan pemanggilan pemain yang dinilai tidak relevan secara performa, serta menyoroti pentingnya stabilitas mental dalam tim nasional.

Baca Juga:Como Tak Pernah Kalahkan Inter, Fabregas: Kami Besok Datang untuk MenangBenarkah Andy Robertson Akan Gabung AC Milan Usai Tinggalkan Liverpool?

“Untuk sukses, Anda harus tenang. Kalau penuh tekanan dan kebingungan, hasilnya tidak akan maksimal,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, De Laurentiis juga membahas masa depan federasi sepak bola Italia dan menolak gagasan bahwa mantan pemain harus otomatis memimpin federasi.

Menurutnya, yang dibutuhkan adalah sosok dengan kemampuan politik dan komunikasi yang kuat, bukan sekadar latar belakang sebagai pesepak bola.

“Kita butuh seseorang yang bisa berbicara dengan pemerintah, menyelesaikan masalah pajak dan birokrasi. Kita butuh figur yang punya kredibilitas di level institusi,” jelasnya.

Pernyataan ini menegaskan bahwa bagi De Laurentiis, reformasi sepak bola Italia tidak hanya soal taktik di lapangan, tetapi juga menyangkut struktur, regulasi, dan hubungan dengan pemerintah.

Apa yang disampaikan De Laurentiis mencerminkan keresahan yang lebih luas di dunia sepak bola modern.

Jadwal yang padat, tuntutan performa tinggi, dan minimnya perlindungan terhadap klub menjadi isu yang semakin sering dibahas.

Baca Juga:Massimo Callegari: Pep Guardiola dan Jose Mourinho Tak Kan Bisa Bangkitkan Sepakbola ItaliaMedia Italia: Spalletti Butuh Gelandang Idaman untuk Kembalikan Mental Pemenang Juventus

Meski usulannya terkesan kontroversial, ide soal kompensasi pemain tim nasional membuka diskusi baru tentang keseimbangan antara kepentingan klub dan negara.

Kini, bola ada di tangan FIFA dan UEFA: apakah mereka akan mempertimbangkan perubahan, atau tetap mempertahankan sistem yang ada?

0 Komentar