Selain itu, generasi baru juga mulai menunjukkan potensinya. Nama-nama seperti Enzo Maresca, Roberto De Zerbi, dan Francesco Farioli dinilai mampu membawa ide-ide segar dalam perkembangan taktik modern.
Di level menengah, terdapat pula pelatih berpengalaman seperti Gian Piero Gasperini, Simone Inzaghi, Stefano Pioli, Vincenzo Montella, dan Vincenzo Italiano.
Mereka dinilai memiliki fondasi pengalaman yang kuat, baik di dalam negeri maupun di kompetisi internasional.
Baca Juga:Media Italia: Spalletti Butuh Gelandang Idaman untuk Kembalikan Mental Pemenang JuventusAC Milan vs Udinese: Allegri Siapkan Formasi Kejutan, Pulisic Cadangan
Callegari menegaskan bahwa tim nasional Italia tidak membutuhkan “komandan asing”, melainkan sosok yang benar-benar memahami dinamika sepak bola domestik.
Ia menilai kegagalan dalam beberapa tahun terakhir lebih disebabkan oleh kurangnya identitas dan tekanan berlebihan terhadap pemain, bukan semata kualitas pelatih.
Ia juga menyinggung narasi emosional yang kerap membebani tim nasional, termasuk pendekatan yang terlalu dramatis dalam membangun motivasi.
Hal tersebut justru dianggap kontraproduktif bagi perkembangan pemain.
Lebih jauh, Callegari menilai pembenahan seharusnya difokuskan pada level akar rumput, khususnya pengembangan pemain muda.
Menurutnya, hasil di level junior tidak selalu mencerminkan kualitas jangka panjang.
Ia memberi contoh bagaimana tim muda Italia bisa tampil kompetitif, namun belum tentu menghasilkan pemain yang siap bersinar di level senior.
Di sisi lain, negara seperti Spanyol lebih fokus pada pengembangan teknik individu yang berkelanjutan.
Baca Juga:Daftar Pemain Korban Revolusi AS Roma Musim Depan: Dari El Shaarawy Hingga DybalaMedia Italia: Inter Buru Nico Paz, Lazio Sibuk Pertahankan Kenneth Taylor dan Oliver Provstgaard
Pada akhirnya, Callegari menyimpulkan bahwa Italia perlu kembali pada jati dirinya. Mengadopsi metode asing memang penting, tetapi bukan berarti harus mengorbankan identitas sepak bola nasional.
Ia juga membuka kemungkinan keterlibatan figur asing, namun lebih pada level pengembangan dan metodologi, bukan sebagai pelatih utama tim nasional.
“Untuk seorang pelatih, jauh lebih baik menghormati sejarah kita,” tulisnya menegaskan.
Pernyataan tersebut menjadi penutup yang kuat: kebangkitan sepak bola Italia tidak akan datang dari solusi instan atau nama besar dari luar, melainkan dari proses panjang yang berakar pada identitas, pembinaan, dan keberanian untuk membangun kembali dari dalam.
