RADARTASIK.ID – Como 1907 bersiap menghadapi ujian berat saat menjamu Inter Milan pada pekan ke-32 Serie A pada Senin (13/4) pukul 01.45 WIB.
Pertandingan yang akan digelar di Stadion Giuseppe Sinigaglia ini kembali menghadirkan “mimpi buruk” bagi Como, yang sejak kembali ke kasta tertinggi belum pernah mengalahkan Nerazzurri.
Dalam konferensi pers jelang laga, pelatih Como Cesc Fàbregas menegaskan bahwa timnya tidak akan bermain bertahan saat menjamu Inter.
Baca Juga:Benarkah Andy Robertson Akan Gabung AC Milan Usai Tinggalkan Liverpool?Massimo Callegari: Pep Guardiola dan Jose Mourinho Tak Kan Bisa Bangkitkan Sepakbola Italia
Meski menyadari kualitas lawan, ia tetap menanamkan mentalitas berani kepada para pemainnya.
“Kami selalu mencoba mencari solusi. Saat menghadapi mereka di Coppa Italia, kami tampil cukup baik melawan pemain seperti Zielinski, Calhanoglu, hingga Acerbi. Kami mampu mengontrol banyak situasi di mana mereka biasanya sangat kuat,” ujar Fabregas.
Namun, ia mengakui satu hal yang masih menjadi kekurangan Como: efektivitas di depan gawang.
Menurutnya, keberanian bermain harus diiringi dengan ketajaman untuk mencetak gol.
“Melawan Inter, Anda harus bisa mencetak gol. Kami harus bermain dengan keberanian dan membuat perbedaan di momen-momen penting,” paparnya.
“Dalam beberapa pertandingan sebelumnya, kami gagal melakukannya. Besok kami berharap menjalani hari yang lebih baik,” lanjutnya.
Menariknya, absennya kapten Inter, Lautaro Martínez, tidak dianggap sebagai keuntungan besar oleh Fabregas. Ia justru menegaskan bahwa kekuatan utama Como terletak pada tim itu sendiri.
“Bagi kami, ‘jolly’-nya bukan absennya Lautaro, melainkan para pemain dan suporter kami. Inter sangat dekat dengan gelar juara, jadi kami harus tampil luar biasa,” tegasnya.
Baca Juga:Media Italia: Spalletti Butuh Gelandang Idaman untuk Kembalikan Mental Pemenang JuventusAC Milan vs Udinese: Allegri Siapkan Formasi Kejutan, Pulisic Cadangan
Fabregas juga menanggapi isu mengenai tekanan media terhadap Como dan menilai kritik adalah hal yang wajar dalam sepak bola dan tidak perlu dibesar-besarkan.
“Saya tidak melihat ada masalah besar. Banyak orang juga menyukai apa yang kami lakukan. Pada akhirnya, setiap orang punya opini masing-masing. Kami harus fokus pada identitas kami dan apa yang ingin kami bangun,” jelasnya.
Ia bahkan memberikan analogi menarik tentang perbedaan pandangan dalam sepak bola.
