TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Pemerintah Kota Tasikmalaya resmi menerapkan skema Work From Home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN), Jumat (10/4/2026).
Kebijakan ini langsung diuji lewat inspeksi mendadak (sidak) oleh Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, ke sejumlah ruangan di Bale Kota.
Dalam sidak perdana itu, Viman mendapati penerapan WFH ASN di lingkungan Setda sudah mulai berjalan, walaupun masih menemukan ruangan bidang yang AC-nya menyala.
Baca Juga:Datangi Sekre STC, Diky Candra Jadi Komeng!Polisi di Kota Tasikmalaya Terus Selidiki Kasus Penganiayaan Ibu Rumah Tangga
Namun ada satu ruangan yang wajib terus menyala AC-nya karena ada server. Yaitu ruangan Barang dan Jasa (Barjas) atau Unit Layanan Pengadaan (ULP).
Sejumlah lampu dan perangkat elektronik lainnya telah dimatikan sebagai bagian dari upaya penghematan energi.
“Alhamdulillah ini hari pertama kita coba WFH ASN di Kota Tasikmalaya. Tadi saya keliling, sebagian sudah berjalan,” ujar Viman kepada Radar.
Ia menegaskan, skema kerja ini tidak berlaku total. ASN di level Eselon II, III, serta pegawai pelayanan publik tetap masuk kantor.
Sementara itu pegawai lainnya bekerja dari rumah, dengan pengawasan berbasis absensi digital dan rapat daring.
Menariknya, di tengah kebijakan yang terdengar serius ini, Viman sempat melontarkan candaan khas birokrasi pagi hari. Ia mengaku sempat “menyapa” ASN yang WFH melalui zoom.
“Ada yang saya tanya, sudah mandi belum? Kan pagi-pagi absen zoom dari rumah,” ujarnya berseloroh.
Baca Juga:Besok ASN Kota Tasikmalaya Mulai WFH, Birokrasi Dipaksa Lebih HematOuting Class TK di Tasikmalaya Naik Kendaraan Taktis TNI Keliling Kota
Namun di balik guyonan itu, pesan yang disampaikan cukup tegas: WFH bukan berarti “Work From Hape”. ASN diminta tetap disiplin bekerja dari rumah, bahkan tetap mengenakan seragam saat bertugas daring.
Lebih jauh, Viman menekankan bahwa inti kebijakan ini adalah efisiensi energi.
Aktivitas perkantoran yang tetap berjalan diminta dipusatkan dalam satu ruangan agar penggunaan listrik dan air lebih hemat—bukan malah menyebar seperti rapat yang tak kunjung rampung.
“Kegiatan pekerjaan jangan terpencar di banyak ruangan. Harus efektif, satu tempatkan saja,” tegasnya.
Pemkot juga, kata Viman, akan mengevaluasi efektivitas kebijakan ini dalam waktu satu bulan ke depan, termasuk dampaknya terhadap penghematan energi.
