Sepi Gagasan di Kota Tasikmalaya? Komunitas Akar Pohon Gugat Pendidikan Kritis

komunitas literasi Kota Tasikmalaya
Komunitas Akar Pohon menggelar literasi bertajuk “Baca dan Bincang Buku” di Veloce Garrage Coffee Kota Tasikmalaya, Jumat (10/4/2026). Thaariq Falih / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Di tengah riuh tongkrongan yang lebih sering diisi obrolan kosong, secercah geliat intelektual justru muncul dari sudut kafe.

Komunitas Akar Pohon menggelar kegiatan literasi bertajuk Baca dan Bincang Buku di Veloce Garrage Coffee Kota Tasikmalaya, Jumat (10/4/2026).

Kegiatan yang dimulai pukul 17.00 WIB itu diikuti puluhan peserta lintas latar.

Baca Juga:Kota Tasikmalaya Kirim Wakil LCC Empat Pilar, Persiapan Minim Tetap OptimistisWFH ASN Kota Tasikmalaya Dimulai, Sidak Viman Temukan AC Ruangan Bidang Masih Menyala

Bukan sekadar kumpul, forum ini menyuguhkan sesi membaca senyap selama 45 menit—sesuatu yang mulai terasa “langka” di Kota Tasikmalaya.

Setelah itu, diskusi mengalir, dari ekonomi, politik, lingkungan, sejarah hingga feminisme.

Di balik suasana santai, diskusi justru mengarah tajam. Komunitas ini secara terbuka menyoroti kondisi pendidikan yang dinilai belum sepenuhnya mendorong nalar kritis.

Ramli (27), perwakilan Komunitas Akar Pohon, menyebut pendidikan hari ini masih kerap terjebak dalam pola lama—murid dijejali, bukan diajak berpikir.

“Pendidikan kritis itu bukan berarti anti-aturan. Tapi bagaimana individu memahami kenapa aturan ada, siapa yang diuntungkan, dan kapan perlu diubah,” ujarnya.

Ia bahkan mengutip pemikiran Paulo Freire dalam buku Pendidikan Kaum Tertindas, yang mengkritik model “pendidikan gaya bank”—murid sebagai objek pasif yang hanya menerima.

Menurutnya, pendekatan seperti itu lebih mirip penjinakan ketimbang proses memanusiakan manusia.

Baca Juga:Datangi Sekre STC, Diky Candra Jadi Komeng!Polisi di Kota Tasikmalaya Terus Selidiki Kasus Penganiayaan Ibu Rumah Tangga 

Sindiran pun diarahkan ke level lokal. Ramli menilai belum ada langkah signifikan dari pemangku kebijakan di Kota Tasikmalaya dalam mendorong ruang-ruang pendidikan kritis.

“Belum terlihat manuver berarti dari pemimpin kota terkait hal ini,” tambahnya.

Di sisi lain, kebutuhan ruang diskusi publik justru terasa mendesak. Imron (23), salah satu peserta, menyebut forum seperti ini makin jarang ditemukan.

“Banyak pelajar dan mahasiswa terjebak rutinitas nongkrong. Tapi membaca dan berdiskusi masih jadi barang mewah,” katanya.

Menariknya, pihak kafe ikut memberi dukungan dengan promo harga flat Rp10.000 untuk semua menu selama acara berlangsung—ironi kecil: diskusi murah, tapi nilai gagasan yang dipertaruhkan seharusnya mahal.

Kegiatan ini menjadi semacam pengingat: ketika ruang-ruang kritis menyempit, maka yang tumbuh bukan kesadaran, melainkan kebiasaan diam. (thaariq falih)

0 Komentar