TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Hujan tidak punya kompromi Kamis malam itu, (9/4/2026). Sejak sore, air turun seperti tidak kenal lelah di langit Kota Tasikmalaya.
Tapi tekad silaturahmi juga tidak kenal hujan. Di Sekre Scooter Tasikmalaya Club (STC) di Jalan Cigeureung—para pengurus sudah sibuk sejak sore. Bukan sibuk rapat. Sibuk menanak. Sibuk memanaskan. Sibuk menyiapkan jamuan.
Untuk tamu yang bukan sembarang tamu. Orang nomor dua di kota ini: Diky Candra. Jamuan sederhana. Tapi terasa niatnya. Kacang rebus sudah dipanaskan sejak sore. Pisang tersusun rapi. Anggur merah ikut menemani. Dan yang paling menggoda: durian.
Baca Juga:Polisi di Kota Tasikmalaya Terus Selidiki Kasus Penganiayaan Ibu Rumah Tangga Besok ASN Kota Tasikmalaya Mulai WFH, Birokrasi Dipaksa Lebih Hemat
Di meja makan lain, mie goreng mengepul. Sambel siap menggigit lidah. Dan satu hidangan yang jadi ciri khas: gulai entog. Menu khas anak vespa STC. Menu khas kebersamaan.
Acara dimulai selepas magrib. Hujan belum juga reda. Lalu datanglah dia. Diky Candra hadir dengan gaya khasnya: ikat kepala, baju hitam, jaket coklat menahan dingin. Wajahnya tetap santai. Senyumnya tetap jadi pembuka percakapan. Ia datang ditemani Kang Candra Permana.
Di depan pintu sekre, sudah berdiri para tuan rumah. Ketua STC, Enan Suherlan bersama Asep Saeful Efendi, Mang Ozon, Rahmat Slamet, dan pengurus lain yang jumlahnya tidak sedikit. Salam bersalaman. Hangat. Meski udara dingin.
Yang menarik malam itu bukan malam politik. Tidak ada pidato panjang. Tidak ada laporan program. Yang ada: cerita. Dan tawa.
Diky Candra tidak banyak bicara soal pemerintahan. Ia justru bercerita tentang masa lalunya: jadi sutradara. Jadi produser. Tentang bagaimana ide kadang datang tiba-tiba. Kadang tidak datang-datang.
Ia bercerita seperti orang membuka album kenangan. Runut. Detail. Hidup. Sesekali tangannya meraih kacang rebus. Tidak berhenti ngemil. Tidak berhenti bercerita.
Lalu ia menyebut satu nama: Komeng. Ia menirukan suara sahabatnya itu. Persis. Ruang sekre langsung pecah oleh tawa. Pengurus STC tertawa sampai tidak sempat mengunyah. Cerita demi cerita mengalir. Jenaka. Kadang absurd. Tapi selalu hangat.
Baca Juga:Outing Class TK di Tasikmalaya Naik Kendaraan Taktis TNI Keliling KotaNasib 630 Ribu Guru Madrasah Masih Menggantung, Kemenag RI Didesak Tak Lagi Abai
Memang, latar belakangnya sebagai mantan artis nasional membuatnya tahu satu hal penting: suasana itu harus diciptakan. Dan ia ahli dalam hal itu.
