TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Perang yang berkecamuk jauh di Timur Tengah, nyatanya ikut “menggoreng” dapur perajin tahu di Kota Tasikmalaya.
Bukan peluru yang menghantam, melainkan lonjakan harga kedelai impor dan plastik kemasan yang diam-diam menggerus napas usaha kecil.
Konflik global, khususnya di kawasan Iran dan sekitarnya, memicu kenaikan harga minyak dunia.
Baca Juga:Polisi di Kota Tasikmalaya Terus Selidiki Kasus Penganiayaan Ibu Rumah Tangga Besok ASN Kota Tasikmalaya Mulai WFH, Birokrasi Dipaksa Lebih Hemat
Efek dominonya tak bisa dielakkan—biaya distribusi naik, bahan baku ikut melambung.
Kedelai dan plastik, dua komponen vital produksi tahu, kini jadi beban ganda bagi pelaku industri rumahan.
ADi sentra tahu Nagrok Kulon, Kelurahan Sukarindik, Kecamatan Indihiang, denyut produksi mulai melemah.
Puluhan perajin yang sebelumnya mampu memproduksi 4 kuintal hingga 1 ton per hari, kini harus menahan laju. Produksi menyusut, bukan karena malas, tapi karena terpaksa.
Harga kedelai yang awal tahun masih di angka Rp8.000 per kilogram, kini melonjak ke kisaran Rp12.500 hingga Rp15.000.
Ketergantungan pada impor dari Amerika Serikat dan Kanada membuat perajin tak punya kendali. Mereka hanya bisa pasrah mengikuti irama pasar global—yang seringkali tak berpihak.
Belum cukup sampai di situ, harga plastik kemasan pun ikut merangkak naik.
Baca Juga:Outing Class TK di Tasikmalaya Naik Kendaraan Taktis TNI Keliling KotaNasib 630 Ribu Guru Madrasah Masih Menggantung, Kemenag RI Didesak Tak Lagi Abai
Dari Rp8.000 menjadi Rp12.000 per bungkus. Kenaikan ini seperti ironi: tahu sebagai makanan rakyat, tapi ongkos produksinya makin terasa “elit”.
Oding (64), salah satu perajin tahu, mengaku kondisi ini membuat serba salah. Harga jual tak bisa dinaikkan, ukuran tak berani diperkecil.
“Kalau harga dinaikkan, pembeli kabur. Diperkecil juga sama saja, enggak laku. Jadinya ya… rugi,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).
Strategi bertahan yang tersisa hanyalah mengurangi produksi. Dari yang semula bisa menyentuh 1 ton per hari, kini hanya berkisar 3–5 kuintal.
“Yang penting jalan dulu. Daripada ngecilin ukuran, mending ngurangin produksi,” katanya.
Namun, langkah ini pun bukan tanpa risiko. Produk yang tak terjual berarti modal mengendap. Uang tak berputar, dapur pun terancam ikut dingin.
“Kalau enggak habis, ya uangnya masih di barang. Enggak bisa dibawa pulang buat kebutuhan,” tuturnya lirih.
