TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Di setiap Muscab, selalu ada yang dipertaruhkan. Bukan sekadar kursi ketua. Bukan hanya soal siapa duduk paling depan saat rapat dimulai.
Yang dipertaruhkan kali ini—masa depan Partai Persatuan Pembangunan di Kota Tasikmalaya. Apakah ia akan kembali menjadi partai terbesar? Atau pelan-pelan mundur, tanpa terasa, tanpa disadari?
Pertanyaan itu tidak berlebihan. Karena di Kota Tasikmalaya, PPP bukan partai biasa. Ia punya sejarah panjang. Ia pernah menjadi rumah besar bagi banyak tokoh. Ia pernah menjadi mesin politik yang nyaris tak pernah kehabisan bensin. Tapi politik tidak pernah memberi jaminan abadi.
Baca Juga:Puluhan Ribu Motor Listrik Disebut Siap Didistribusikan ke Tiap SPPG di Jabar, Harga Motor Rp 56,8 JutaPasang Reklame di Garut, Warga Ciamis Tersengat Listrik
Kini pertarungan bukan sekadar tiga nama: Hilman Wiaranata, Riko Restu Wijaya, dan Enjang Bilawini. Yang sesungguhnya bertarung adalah dua zaman.
Zaman tua yang penuh pengalaman. Zaman muda yang penuh energi. Dan keduanya sama-sama merasa punya alasan untuk memimpin.
Kelompok senior percaya satu hal, politik bukan lomba lari cepat. Ia maraton. Butuh napas panjang. Butuh kesabaran. Butuh pengalaman membaca arah angin terutama saat badai datang.
Tokoh seperti Enjang Bilawini sering menjadi simbol kelompok ini. Empat periode di DPRD bukan sekadar angka. Itu bukti daya tahan. Bukti kemampuan bertahan di tengah perubahan.
Orang seperti ini biasanya tahu satu rahasia penting dalam politik: loyalitas tidak dibangun dalam sehari.
Di sisi lain, kelompok muda punya keyakinan berbeda. Mereka percaya politik hari ini bukan lagi soal siapa paling lama duduk di kursi. Tapi siapa paling cepat membaca perubahan.
Nama seperti Riko Restu Wijaya sering disebut sebagai wajah generasi baru. Ia tidak hanya hadir di ruang rapat. Ia hadir di media sosial. Di kampus. Di tengah mahasiswa.
Baca Juga:Dua Nama Menguat Jelang Musda PKB Kota Tasik, Arah DPP Jadi PenentuHarga Bahan Baku Plastik Naik Dua Kali Lipat, Pengusaha di Tasikmalaya Berharap Perang Timur Tengah Mereda
Ia memahami satu hal yang sering dilupakan generasi lama, politik hari ini adalah soal komunikasi. Bukan sekadar struktur.
Di tengah dua arus itu, ada figur seperti Hilman Wiaranata. Ia bukan yang paling muda. Tapi juga bukan paling senior. Ia berdiri di tengah-tengah seperti jembatan.
Pengalamannya di organisasi panjang. Jaringannya luas. Ia paham bahasa senior. Tapi juga cukup mengerti ritme generasi baru.
