CIAMIS, RADARTASIK.ID – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tasikmalaya kembali menempuh jalur “tidak biasa” untuk mendorong literasi keuangan.
Kali ini, penyuluh agama di Kabupaten Ciamis direkrut menjadi ujung tombak edukasi, di tengah maraknya jebakan investasi bodong yang kian lihai menyasar masyarakat.
Lewat program Training of Trainers (ToT) yang digelar di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ciamis, Selasa (7/4/2026), OJK mencoba memperluas jangkauan edukasi keuangan—bukan sekadar formalitas seremonial, tapi menyasar ruang-ruang sosial yang selama ini lebih didengar ketimbang baliho imbauan.
Baca Juga:Kota Tasikmalaya Dikejar Target KLA, Komitmen Jangan Sekadar SeremonialPerpustakaan Unsil Kota Tasikmalaya Dibuka untuk Umum, Kunjungan Tembus 12 Ribu dalam Sebulan
Langkah ini merupakan kelanjutan dari program serupa di Tasikmalaya, yang dinilai efektif.
Penyuluh agama dianggap punya “panggung” yang lebih dekat dengan masyarakat—dari mimbar hingga majelis taklim—yang selama ini belum maksimal disentuh edukasi keuangan.
Kepala OJK Tasikmalaya, Nofa Hermawati, menyebut penyuluh agama sebagai opinion leader yang potensial.
“Kami dorong mereka jadi garda terdepan. Efeknya bisa berlipat karena mereka punya kedekatan emosional dengan masyarakat,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Di sisi lain, realitas di lapangan tak bisa ditutup-tutupi. Literasi keuangan masih menjadi pekerjaan rumah, sementara modus keuangan ilegal terus bertransformasi.
Dari investasi bodong hingga pinjaman online ilegal, semua menyasar celah minimnya pemahaman masyarakat.
Nofa menegaskan, penguatan kapasitas penyuluh agama bukan sekadar menambah pengetahuan, tapi membangun benteng.
Baca Juga:WFH Kota Tasikmalaya Diuji, Pengawasan ASN Jadi Titik LemahASN Kota Tasikmalaya Tiap Rabu Masuk Kerja Naik Sepeda, Angkutan Umum atau Kendaraan Listrik
“Masyarakat harus paham cara mengelola keuangan, memilih produk sesuai kemampuan, dan tidak mudah tergiur iming-iming,” katanya.
Kepala Kementerian Agama Kabupaten Ciamis, Asep Lukman Hakim, mengakui pendekatan ini lebih relevan.
Menurutnya, edukasi keuangan kini tak bisa berdiri sendiri—harus masuk dalam pola pembinaan masyarakat.
“Penyuluh agama punya kedekatan. Ini peluang untuk membangun kebiasaan keuangan yang lebih sehat,” ucapnya.
Tak berhenti di situ, kolaborasi ini bahkan akan merambah ke program pembekalan pranikah.
Materi edukasi keuangan rencananya disisipkan bagi calon pengantin—sebuah langkah yang terkesan sederhana, tapi sering luput: menyiapkan fondasi finansial sebelum rumah tangga dimulai.
Dalam kegiatan tersebut, para penyuluh dibekali pemahaman soal produk dan layanan keuangan, ciri-ciri aktivitas ilegal, hingga kemampuan memilih layanan yang sesuai kebutuhan.
