Secara statistik, performa Svilar masih tergolong impresif. Ia telah mencatatkan 92 penyelamatan sepanjang musim, dengan total 28 gol kebobolan dan 13 clean sheet dari 31 penampilan (2.790 menit bermain).
Namun, jika dilihat lebih dalam, tren penurunannya mulai terlihat. Sebanyak 17 dari 28 gol kebobolan terjadi sejak awal 2026, dan rata-rata penyelamatannya menurun dari sekitar 3 menjadi 2,6 per pertandingan.
Selain itu, dari total 13 clean sheet, hanya enam yang tercipta di paruh kedua musim. Hal ini menunjukkan bahwa pertahanan Roma sedang mengalami penurunan performa yang cukup signifikan.
Baca Juga:Oaktree Minta Inter Orbitkan Pemain Muda, Bidik Guglielmo Vicario untuk Gantikan SommerDaftar Pelatih dan Pemain Terbaik Serie A: Fabregas Kalahkan Chivu
Dalam peringkat kiper Serie A, Svilar kini turun ke posisi ketiga, berada di belakang Yann Sommer dan Jean Butez dari Como.
Di luar lapangan, masa depan Svilar juga menjadi bahan spekulasi.
Roma masih terikat kesepakatan dengan UEFA terkait aturan Financial Fair Play, yang memaksa klub untuk menjaga keseimbangan keuangan.
Dalam kondisi ini, penjualan pemain bintang bukanlah hal yang mustahil.
Svilar menjadi salah satu aset paling berharga. Ia diminati sejumlah klub Eropa, termasuk Newcastle United, bahkan Inter juga dikabarkan sempat melakukan pendekatan.
Nilai transfernya diperkirakan mencapai €40 juta atau sekitar Rp680 miliar.
Meski demikian, ada satu faktor penting: loyalitas sang pemain. Svilar baru saja memperpanjang kontraknya hingga 2030, menunjukkan komitmennya terhadap Roma dan keinginannya bertahan di ibu kota Italia.
Untuk saat ini, fokus utama tetap pada lapangan. Jika Roma masih ingin menjaga asa menuju Liga Champions, mereka membutuhkan versi terbaik dari Svilar—bahkan mungkin versi “super” dari dirinya—untuk kembali menjadi tembok kokoh di bawah mistar.
Tanpa itu, mimpi tampil di kompetisi elite Eropa musim depan bisa benar-benar sirna.
