“Daripada harus bayar di tempat lain untuk akses komputer, di sini gratis dan nyaman. Tinggal ongkos ke lokasi saja,” ujarnya, setengah berseloroh.
Meski era digital terus menggempur, buku dinilai tetap memiliki posisi penting. Media sosial bukan pesaing, melainkan pelengkap dalam memperkaya wawasan generasi muda.
Di tengah gempuran konten instan, perpustakaan seperti Unsil justru hadir sebagai pengingat: literasi tak cukup sekadar scroll, tapi juga perlu duduk, membaca, dan berpikir. (rezza rizaldi)
