TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Dugaan penistaan agama saat siaran langsung di TikTok memicu kemarahan warga di Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.
Amarah massa memuncak hingga berujung pada perusakan dan pembakaran satu unit gudang milik Padepokan Saung Taraju Jamantara (STJ), Selasa malam (1/4/2026) lalu, sekitar pukul 20.30 WIB. Video pembakaran itu pun viral di media sosial.
Kepolisian Resor Tasikmalaya bergerak cepat meredam situasi agar gejolak tidak meluas. Penanganan dilakukan secara tegas namun tetap mengedepankan langkah profesional dan persuasif.
Baca Juga:Pasang Reklame di Garut, Warga Ciamis Tersengat ListrikDua Nama Menguat Jelang Musda PKB Kota Tasik, Arah DPP Jadi Penentu
Kapolres Tasikmalaya, AKBP Wahyu Pristha Utama, menjelaskan insiden tersebut berawal dari keresahan warga yang sudah lama menumpuk terhadap aktivitas pemilik padepokan, Khobir, yang dinilai kontroversial.
Menurut dia, situasi semakin memanas setelah Khobir melakukan siaran langsung di platform TikTok bersama seorang perempuan bernama Esther atau BBdrum. Warga menilai isi siaran tersebut mengandung unsur penistaan agama dan praktik yang dianggap menyinggung keyakinan masyarakat sekitar.
“Dalam konten live TikTok tersebut, warga menduga ada unsur penistaan agama dan praktik yang menyinggung perasaan masyarakat setempat,” ujar dia, Selasa (7/4/2026).
Kemarahan warga pun tak terbendung. Sekitar 60 orang mendatangi lokasi padepokan di Desa Purwarahayu dan melakukan aksi spontan dengan merusak serta membakar gudang berukuran 3×4 meter milik Khobir.
“Akibat kejadian itu, kerugian materi ditaksir mencapai sekitar Rp6 juta,” ujar dia.
Polisi mengungkapkan, padepokan tersebut sebenarnya pernah menjadi perhatian aparat. Berdasarkan catatan, STJ sudah dibekukan oleh Bakorpakem Tasikmalaya pada tahun 2004. Namun aktivitas terbaru di media sosial kembali memicu reaksi keras dari masyarakat.
Begitu menerima laporan, Kapolres langsung memimpin personel gabungan menuju lokasi. Tim terdiri dari Kabag Ops, Satreskrim, Samapta, hingga personel dari jajaran polsek setempat.
Baca Juga:Harga Bahan Baku Plastik Naik Dua Kali Lipat, Pengusaha di Tasikmalaya Berharap Perang Timur Tengah MeredaDi Balik Gemerlap Wisata Pangandaran: Praktik Prostitusi Tak Pernah Mati
Pendekatan dialogis dilakukan dengan melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga pemerintah desa. Langkah itu terbukti efektif meredam emosi warga.
“Alhamdulillah warga mendengarkan instruksi kami. Aksi dapat segera dihentikan dan massa kembali ke rumah masing-masing dengan tertib,” katanya.
Setelah situasi kondusif, polisi segera memasang garis polisi, melakukan olah tempat kejadian perkara, mengamankan barang bukti, serta meminta keterangan sejumlah saksi. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan proses hukum berjalan objektif dan profesional, baik terkait aksi perusakan maupun dugaan penistaan agama yang menjadi pemicu awal.
