TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Pemerintah Kota Tasikmalaya mulai menambal “lubang” data dari level paling bawah.
Lewat Program Kelurahan Cantik (Cinta Statistik) dan persiapan Sensus Ekonomi 2026, pemda mendorong kelurahan tak sekadar jadi pelengkap administrasi, tapi naik kelas menjadi dapur utama data pembangunan.
Komitmen itu ditandai simbolis dengan pelepasan balon oranye pada apel gabungan di Lapangan Bale Kota Tasikmalaya, Senin (6/4/2026).
Baca Juga:ASN Kota Tasikmalaya Tiap Rabu Masuk Kerja Naik Sepeda, Angkutan Umum atau Kendaraan ListrikPembinaan Posyandu Kota Tasikmalaya Digenjot, Kader Diminta Naik Kelas
Seremonialnya ringan, tapi pesannya cukup “berat”: jangan lagi bangun kebijakan dengan data tambal sulam.
Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, menegaskan bahwa akurasi dan validitas data menjadi kunci arah pembangunan.
Menurutnya, kebijakan publik yang tepat sasaran hanya lahir dari fondasi data yang rapi hingga tingkat kelurahan.
“Data yang baik akan menghasilkan informasi yang baik, dan pada akhirnya melahirkan kebijakan yang tepat sasaran,” ujarnya.
Pada 2026, tiga kelurahan ditunjuk sebagai etalase Program Kelurahan Cantik, yakni Kelurahan Setiawargi, Kelurahan Tuguraja, dan Kelurahan Sukajaya.
Ketiganya diharapkan menjadi contoh bagaimana data tidak lagi sekadar angka di atas kertas, tetapi menjadi alat navigasi pembangunan.
Program ini juga diarahkan untuk memperkuat Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Baca Juga:WFH ASN Kota Tasikmalaya Mulai Diuji Jumat ini, Akan Ada Sehari Naik Sepeda atau Kendaraan ListrikDiduga Tekor saat Belok, Mobil Terbalik Terjun ke kolam Ikan di Indihiang Kota Tasikmalaya
Harapannya, persoalan klasik seperti bantuan sosial yang “nyasar alamat” bisa ditekan.
Dengan kata lain, bantuan tak lagi jatuh ke tangan yang salah, sementara yang berhak hanya kebagian janji.
Di sisi lain, Kota Tasikmalaya juga bersiap menghadapi Sensus Ekonomi 2026.
Kegiatan ini akan memotret wajah riil perekonomian daerah, dari UMKM, industri kreatif, hingga ekonomi digital yang kian berkembang.
Wali Kota meminta perangkat daerah, camat, hingga lurah tidak pasif menunggu instruksi.
Semua diminta terlibat aktif agar sensus tidak sekadar jadi rutinitas lima tahunan, tetapi benar-benar menghasilkan peta ekonomi yang akurat.
“Melalui sinergi Kelurahan Cantik dan Sensus Ekonomi, kita ingin memastikan setiap kebijakan benar-benar berbasis data dan berdampak langsung bagi masyarakat,” tegasnya.
Jika data sudah rapi dari hulu, maka kebijakan tak lagi “menebak-nebak”.
Kota Tasikmalaya pun punya peluang lebih besar menyusun strategi pembangunan yang presisi—bukan sekadar optimistis di atas kertas. (firgiawan)
