Pernyataan itu terdengar normatif. Namun dalam konteks ini, ia seperti pengingat: bahwa pembangunan yang terlalu fokus pada beton bisa melupakan manusia yang berjalan di atasnya.
Diky juga menegaskan dukungan pemerintah terhadap ruang-ruang perjumpaan seperti Sasadu.
Bukan tanpa alasan—stabilitas sosial di tingkat lokal sering kali bergantung pada seberapa sering warganya benar-benar bertemu, bukan sekadar berpapasan.
Di era ketika komunikasi lebih sering terjadi lewat layar, pertemuan fisik justru menjadi barang mewah. Ironis, di kota yang semakin padat, orang-orang justru makin berjauhan.
Sasadu, dalam kesederhanaannya, mencoba melawan ironi itu.
Baca Juga:Yang Berpengalaman di Kota Tasikmalaya Berkumpul, yang Berkuasa Menghilang!Bertemu Para Mantan Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra Akui Komunikasi Belum Ideal
Para peserta tak hanya berjabat tangan, tapi juga bertukar cerita. Dari pengalaman komunitas, keresahan sosial, hingga rencana kolaborasi.
Tak ada kesimpulan besar, tak ada deklarasi megah. Tapi mungkin memang itu yang dibutuhkan—ruang tanpa tekanan untuk sepakat.
Karena sejatinya, tidak semua perbedaan harus diselesaikan. Sebagian cukup dipahami.
Di Kota Tasikmalaya, Sasadu menjadi pengingat kecil bahwa harmoni tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kesediaan untuk duduk bersama—meski berbeda.
Dan di tengah dunia yang semakin bising oleh klaim kebenaran masing-masing, duduk bersama barangkali sudah menjadi langkah yang cukup revolusioner. (ayu sabrina barokah)
