Sasadu di Kota Tasikmalaya: ketika Silaturahmi Menambal Retak yang Tak Terlihat

kegiatan Sasadu Kota Tasikmalaya lintas komunitas
Penampilan seni dalam kegiatana Sasadu, halal bihalal ala seniman budayawan hingga politikus, Jumat (3/4/2026). Ayu Sabrina / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Di tengah riuhnya Kota Tasikmalaya yang kerap sibuk dengan urusan pembangunan fisik, ada satu hal yang sering luput diperbaiki: hubungan antarmanusia.

Jalan bisa diaspal, gedung bisa diresmikan, tapi jarak sosial—yang tak kasatmata—sering dibiarkan retak tanpa plester.

Jumat (3/4/2026), di Tawang, ruang itu coba dihadirkan. Namanya sederhana: Sasadu, akronim dari Sasalaman Sadudulur.

Baca Juga:Yang Berpengalaman di Kota Tasikmalaya Berkumpul, yang Berkuasa Menghilang!Bertemu Para Mantan Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra Akui Komunikasi Belum Ideal

Digagas oleh Komunitas Cermin Tasikmalaya (KCT), acara ini bukan sekadar halal bihalal—ritual tahunan yang kadang lebih sibuk dengan formalitas daripada makna.

Sasadu justru bergerak ke arah sebaliknya: membongkar sekat.

Di ruangan yang tak terlalu kaku itu, berbagai komunitas duduk setara. Tak ada kursi VIP yang mencolok, tak ada sekat yang memisahkan “kami” dan “mereka”.

Yang ada hanya percakapan—sesuatu yang belakangan ini semakin langka di tengah derasnya opini yang lebih sering berteriak daripada mendengar.

Pembina KCT, Ashmansyah Timutiah, tampak sadar betul persoalan ini. Baginya, silaturahmi bukan solusi instan, tapi setidaknya titik mula.

“Silaturahmi tidak serta-merta menyelesaikan semuanya. Tapi ini awal untuk saling memahami,” ujarnya.

Kalimat itu sederhana, tapi terasa seperti sindiran halus bagi kondisi sosial hari ini—di mana perbedaan sering dipelihara sebagai jarak, bukan dirawat sebagai warna.

Di Kota Tasikmalaya, dinamika komunitas memang terus tumbuh. Dari komunitas kreatif, sosial, hingga yang berbasis hobi dan ideologi.

Baca Juga:Pintu Air Gunung Mindi Jadi Biang Banjir di Cilalang Kota Tasikmalaya, PUTR Bongkar Patok SampahSaat Mobil Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diketuk- Ketuk!

Sayangnya, pertumbuhan itu tidak selalu diiringi dengan ruang temu. Akibatnya, masing-masing berjalan di jalurnya sendiri—kadang bersinggungan, lebih sering saling curiga.

Sasadu mencoba menjahit itu. Bukan dengan diskusi berat yang penuh istilah akademis, melainkan lewat obrolan ringan, tawa kecil, dan sesekali pengakuan jujur tentang perbedaan yang selama ini disimpan.

Di sudut lain, Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra, melihat fenomena ini sebagai bagian penting dari pembangunan kota yang sering tak masuk dalam dokumen perencanaan.

“Kota itu bukan hanya soal infrastruktur. Tapi juga soal bagaimana warganya bisa saling memahami,” tuturnya.

0 Komentar