Pedestrian KHZ Kota Tasikmalaya Rp11 Miliar Tanpa Arah, “Malioboro” Tinggal Julukan

pedestrian KHZ Mustofa Kota Tasikmalaya Rp11 miliar
Parkiran roda dua di area pedestrian KHZ Mustofa Kota Tasikmalaya. Ayu Sabrina Barokah / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

Persoalan lain yang tak kalah krusial adalah parkir. Di tengah perubahan pola mobilitas masyarakat, kawasan KHZ justru dinilai belum adaptif. Ruang parkir minim, tapi estetika juga tak terselamatkan.

Belum lagi soal pedagang kaki lima (PKL) yang kembali menjamur tanpa penataan berkelanjutan. Penertiban yang dulu sempat dilakukan kini seperti jeda yang tak pernah dilanjutkan.

“Publik melihatnya sederhana: tidak ada konsep. PKL makin banyak, tapi penataannya tidak jelas,” jelasnya.

Baca Juga:Yang Berpengalaman di Kota Tasikmalaya Berkumpul, yang Berkuasa Menghilang!Bertemu Para Mantan Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra Akui Komunikasi Belum Ideal

Di tengah semua itu, Enan mengingatkan satu hal penting: masyarakat tak peduli siapa yang membangun. Yang mereka rasakan adalah manfaat—atau ketiadaannya.

“Siapapun wali kotanya, yang dilihat masyarakat itu dampaknya. Harus ada langkah konkret dari dinas,” tegasnya.

Hingga kini, kawasan KHZ Mustofa di Kota Tasikmalaya masih berjalan dengan kondisi apa adanya. Tanpa sentuhan baru, tanpa arah yang tegas. Jika terus dibiarkan, bukan tidak mungkin “Malioboro Tasik” hanya akan tinggal slogan—indah di ucapan, kosong di kenyataan. (ayu sabrina barokah)

0 Komentar