TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Julukan “Malioboro-nya Tasik” untuk kawasan Jalan KHZ Mustofa–Cihideung di Kota Tasikmalaya kini terdengar seperti satire yang tak sengaja jadi nyata.
Megah di awal, gamang di tengah jalan. Anggaran Rp11 miliar sudah habis, tapi konsep seolah belum pernah benar-benar lahir.
Anggota Komisi II DPRD Kota Tasikmalaya, Enan Suherlan, menilai pedestrian yang dibangun dengan biaya besar itu justru kehilangan arah.
Baca Juga:Yang Berpengalaman di Kota Tasikmalaya Berkumpul, yang Berkuasa Menghilang!Bertemu Para Mantan Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra Akui Komunikasi Belum Ideal
Alih-alih menjadi magnet ekonomi dan ruang interaksi publik, kawasan tersebut kini dinilai berjalan tanpa peta, tanpa narasi.
“Proyeknya mewah, anggarannya luar biasa sampai Rp11 miliar. Tapi dampaknya ke masyarakat mana? Wajar kalau publik bertanya,” ujar Enan, Minggu (5/4/2026).
Ia menegaskan, pemerintah kota tak bisa terus berlindung di balik status “warisan pemerintahan sebelumnya”.
Sebab dalam politik anggaran, yang diwarisi bukan hanya bangunan fisik, tapi juga tanggung jawab.
“Harus ada redesain. Mau dibawa ke mana kawasan ini? Dulu disebut jantung kota, pusat pertemuan warga. Tapi sekarang terlihat semrawut, penataannya tidak jelas,” katanya.
Kritik Enan bukan tanpa dasar. Ia menyoroti minimnya interpretasi konsep dari pemerintah, termasuk kegagalan memaksimalkan fasilitas yang sudah tersedia.
Rencana booth yang sempat digaungkan, misalnya, kini tinggal jejak rencana. Barangnya ada, tapi fungsinya menguap.
Baca Juga:Pintu Air Gunung Mindi Jadi Biang Banjir di Cilalang Kota Tasikmalaya, PUTR Bongkar Patok SampahSaat Mobil Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diketuk- Ketuk!
“Ini seperti proyek yang berhenti di niat. Mau bikin booth, tidak jadi. Barang ada, tapi tak dimanfaatkan. Tinggal ada kemauan atau tidak,” ucapnya, menyindir.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa penataan kawasan bukan sekadar soal batu dan beton.
Ada visi yang harus diterjemahkan menjadi denyut ekonomi—khususnya sektor perdagangan dan jasa. Tanpa itu, pedestrian hanya akan menjadi lorong panjang yang sepi makna.
Indikator paling kasat mata, menurutnya, adalah matinya denyut malam di kawasan tersebut. Jika dulu sempat ramai, kini hanya menyisakan sisa-sisa keramaian yang cepat padam.
“Coba lihat malam minggu, masih ramai tidak? Hanya awal-awal saja. Setelah itu sepi lagi. Harusnya ini jadi magnet,” tambahnya.
