Pak Viman, Ayolah!

Pak Viman
Asep M Tamam adalah pengamat pemerintahan, sosial dan politik Tasikmalaya.
0 Komentar

RADARTASIK.ID – Kepemimpinan Wali Kota Tasikmalaya terus disorot. Lewat banyaknya aksi massa, kritik di media sosial, diskusi ringan para aktivis dan seniman, terlihat bahwa jalan pembangunan Kota Tasikmalaya tak ada yang signifikan.

Beberapa pihak menilai, pilihan untuk tidak responsif atas permasalahan yang terjadi sebagai langkah politik. Namun slow respons-nya itu kini dianggap sebagai konfirmasi atas kapasitas dirinya.

Beberapa elemen masih percaya, Pak Wali Kota bekerja keras di belakang kamera, memikirkan solusi atas banyaknya permasalahan yang menjadi keluhan masyarakat. Namun banyak pihak menilai dengan nada pesimis.

Baca Juga:Pemkot Tasikmalaya Publikasikan Ringkasan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah 2025Perasaan Lee Jin Woo Memuncak, Choi Woo Jin Mulai Cemburu di Cabbage Your Life

Minimnya pengalaman menjadikannya seperti kaku dan mati kutu. Akselerasi yang menjadi keyakinan masyarakat di masa kampanye kini justru menjauh. Pembangunan Kota Tasikmalaya tak seperti laju lari yang menjadi passion-nya.

Ada apa dengan Pak Viman? Jiwa mudanya kini seperti tak menjadi energi pembangunan. Kalah sama energi tua Gubernur Jawa Barat, KDM, dan beberapa bupati dan wali kota di Jawa Barat.

Di usianya yang 55, energi KDM tak terbatas dan tak bisa dilawan. Minimal 2 konten yang diproduksi tim digitalnya dalam sehari.Potret atas aktivitasnya yang tak bisa diam.

KDM Seperti tak tersentuh lelah, apalagi sakit. Sementara Pak Viman, semestinya dia jauh lebih energik dibanding KDM. Usianya masih muda, belum sampai 40 tahun.

Idealnya, aksesibilitas pada dunia terkini jauh lebih mendalam. Tapi nyatanya, tenaga mudanya belum dioptimalkan. Kota Tasikmalaya seperti berjalan di tempat.

Beberapa catatan positif para mantan Wali Kota Tasikmalaya sebelumnya seperti tak dijadikan acuan kerjanya. Permasalahan klasik Kota Tasikmalaya juga masih belum bisa dibenahi. Banjir, sampah, kerawanan sosial, penerangan jalan, dan lainnya disentuh tanpa inovasi. Kota Tasikmalaya nyaris tak mencipta kreasi.

Dalam menilai gaya kepemimpinan kepala daerah di Indonesia, khususnya di Jawa Barat, beberapa di antaranya terlalu kuat di kalkulasi sehingga gamang dan ragu mengambil keputusan.

Baca Juga:Kebijakan Terbaru! Pemerintah Stop Anggaran Perjalanan Dinas, Rapat, dan Kegiatan SeremonialDi Korea Selatan, Bahlil Lahadalia Pastikan Harga BBM Bersubsidi Tidak Naik, Bagaimana dengan Nonsubsidi?

Beberapa lain terlalu kuat di spekulasi sehingga terlalu ceroboh dalam memutus kebijakan. Beberapa lainnya, seperti KDM, terlihat pandai memainkan spekulasi, tetapi juga kuat menyandarkan kebijakan berbasis kalkulasi.

0 Komentar