TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Tasikmalaya mulai “turun gunung” ke ruang yang paling riuh sekaligus paling rawan: sekolah.
Bukan lewat seminar ber-AC dengan peserta terbatas, melainkan disisipkan di momen upacara bendera—ritual rutin yang kerap dianggap formalitas.
Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Tasikmalaya, Epi Mulyana, memanfaatkan celah itu.
Baca Juga:Yang Berpengalaman di Kota Tasikmalaya Berkumpul, yang Berkuasa Menghilang!Bertemu Para Mantan Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra Akui Komunikasi Belum Ideal
Ia berdiri sebagai pembina upacara di SMPN 5 Tasikmalaya pada 30 Maret 2026 dan SMP 17 Tasikmalaya pada 6 April 2026, menyampaikan pesan yang tak sekadar lewat telinga kanan-kiri.
“Yang disampaikan di upacara pengibaran bendera, salah satunya berkenaan dengan pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak,” ujar Epi, Senin (6/4/2026).
Namun isu ini tak berdiri sendiri. Di hadapan siswa, ia juga menyinggung potret keseharian remaja yang sering luput dari pengawasan—dari tawuran hingga “drama” di media sosial yang bisa berujung pidana.
“Yang kedua, mengurangi tawuran antar pelajar. Ketiga, edukasi penggunaan digital, karena bisa bermuara pada tindak pidana,” lanjutnya.
Di era ketika jempol lebih cepat dari logika, ruang digital memang jadi ladang subur konflik.
Perundungan tak lagi harus tatap muka; cukup lewat layar, dampaknya bisa lebih dalam.
Ironisnya, banyak siswa masih menganggap dunia maya seperti ruang tanpa hukum—padahal jejak digital tak pernah benar-benar hilang.
Baca Juga:Pintu Air Gunung Mindi Jadi Biang Banjir di Cilalang Kota Tasikmalaya, PUTR Bongkar Patok SampahSaat Mobil Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diketuk- Ketuk!
Karena itu, pendekatan yang dibangun tak berhenti pada larangan. Ada upaya menguatkan komunikasi, baik di rumah maupun di sekolah—dua ruang yang sering kali sama-sama sibuk, tapi minim dialog.
“Keempat, menguatkan ketahanan keluarga melalui pendekatan persuasif antara orang tua dan anak. Di sekolah, perannya ada pada guru,” kata Epi.
Relasi ini krusial. Sebab, banyak kasus kekerasan justru berhenti di level diam—tidak dilaporkan, tidak diceritakan, dan akhirnya tidak tertangani. Anak memilih memendam, orang dewasa tak pernah tahu.
Di titik itulah, pesan “berani bicara” ditekankan. Bukan hanya bagi korban, tetapi juga saksi.
