Ia menekankan bahwa belajar dari pihak lain justru menjadi kunci untuk berkembang.
Menurutnya, sepak bola modern menuntut keterbukaan terhadap ide-ide baru, bukan justru terjebak dalam pola pikir lama.
“Meniru, belajar, mengamati, dan mengambil inspirasi dari orang lain adalah hal yang kita butuhkan untuk masa depan. Tapi di sini masih banyak yang terjebak dalam pemikiran usang,” tambahnya.
Baca Juga:Legenda AC Milan Takjub dengan Penampilan Marcus Thuram: Saya Bersyukur Dulu Menghadapi AyahnyaDibantai Inter Milan 5-2, Sabatini: AS Roma Tak Terlihat Seperti Tim Gasperini
Brocchi juga menyinggung bagaimana sebagian penggemar di Italia justru lebih menyukai tim yang bermain defensif dan pragmatis.
Ia menilai pola pikir “yang penting menang” telah menghambat perkembangan kualitas permainan.
Ia mencontohkan bagaimana tim yang hanya bertahan di depan kotak penalti, minim kreativitas, tetapi menang 1-0 justru sering mendapat pujian.
Menurutnya, pola pikir seperti itu membuat sepak bola Italia tertinggal dibandingkan negara lain.
“Banyak yang lebih senang melihat tim bertahan total, tidak bermain apa-apa, lalu menang 1-0 dan bilang ‘yang penting menang’. Justru karena cara berpikir seperti itu, kita tertinggal jauh dari negara lain. Dan yang lebih parah, kita tidak menyadarinya,” tutup Brocchi.
Pernyataan Brocchi ini menjadi pengingat bahwa sepak bola Italia tengah berada di persimpangan: bertahan dengan tradisi lama atau berani beradaptasi dengan perkembangan zaman.
