Pengakuan itu sederhana, tapi terasa menohok. Di tengah birokrasi yang sering sibuk dengan formalitas, komunikasi yang tulus justru jadi barang langka.
Diky tampak lebih banyak mendengar. Sikap yang mungkin terlihat sepele, tapi justru menjadi barang mewah di ruang kekuasaan yang sering dipenuhi ego.
Ia bahkan menyelipkan humor soal komunikasi ala suami istri—satir ringan yang diam-diam menggambarkan relasi antarpemangku kebijakan: banyak bicara, sedikit benar-benar saling memahami.
Baca Juga:Bertemu Para Mantan Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra Akui Komunikasi Belum IdealPintu Air Gunung Mindi Jadi Biang Banjir di Cilalang Kota Tasikmalaya, PUTR Bongkar Patok Sampah
Pertemuan ini sejatinya menjadi ruang strategis: lintas generasi, lintas pengalaman, dan lintas kepemimpinan. Namun absennya pemimpin aktif justru menyisakan ironi.
Di saat para mantan berusaha memberi arah, yang sedang memegang kompas justru tak tampak di meja diskusi.
Kota Tasikmalaya hari ini seperti sedang dihadapkan pada pilihan klasik: mau belajar dari pengalaman, atau sibuk mengulang kesalahan dengan wajah baru.
Dan di tengah semua itu, satu hal yang terasa makin mahal: komunikasi yang jujur. (rezza rizaldi)
