TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Persoalan tempat pembuangan sampah (TPS) liar di Kota Tasikmalaya lagi-lagi membuktikan diri sebagai penyakit kronis yang sulit disembuhkan. Bukan karena obatnya tak ada, tapi karena “pasiennya” seolah enggan sembuh.
Di sejumlah titik, wajah kota masih dihiasi tumpukan sampah ilegal. Bukan hanya mengganggu estetika, tapi juga menjadi alarm keras soal rendahnya disiplin sebagian warga.
Ironisnya, di saat petugas berjibaku membersihkan, tangan-tangan tak bertanggung jawab justru terus “menyumbang” sampah di lokasi yang sama.
Baca Juga:Yang Berpengalaman di Kota Tasikmalaya Berkumpul, yang Berkuasa Menghilang!Bertemu Para Mantan Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra Akui Komunikasi Belum Ideal
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tasikmalaya pun tak punya pilihan selain terus berpatroli.
Sabtu (4/4/2026), petugas kembali menyisir sejumlah titik rawan dan mendapati pemandangan yang itu-itu lagi: sampah menumpuk di tempat yang bukan semestinya.
Beberapa lokasi yang jadi langganan TPS liar di antaranya belakang eks Kantor Pemda lama, Jalan HZ Mustofa, Jalan Situ Gede, hingga Jalan Gubernur Sewaka. Titik-titik ini seolah sudah “resmi secara ilegal” sebagai tempat buang sampah dadakan.
Kepala Bidang Penanganan Sampah DLH Kota Tasikmalaya, Feri Arif Maulana, mengakui kondisi tersebut membuat petugas harus bekerja ekstra. Bahkan, tak jarang tenaga dan waktu terkuras hanya untuk membersihkan lokasi yang sama berulang kali.
“Masih ditemukan tumpukan sampah di sejumlah titik. Ini jelas mengganggu kebersihan dan keindahan kota,” ujarnya.
Dalam operasi pembersihan itu, DLH menurunkan dua unit mobil pick up dan satu dump truck untuk mengangkut sampah.
Namun, upaya ini terasa seperti menyapu air di lantai yang bocor—bersih sesaat, kotor lagi kemudian.
Baca Juga:Pintu Air Gunung Mindi Jadi Biang Banjir di Cilalang Kota Tasikmalaya, PUTR Bongkar Patok SampahSaat Mobil Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diketuk- Ketuk!
Menurut Feri, persoalan TPS liar bukan semata soal minimnya fasilitas. Ada faktor yang lebih mendasar: kesadaran masyarakat yang masih rendah. Kombinasi ini menciptakan siklus tak berujung—dibersihkan, lalu kotor lagi.
“Petugas harus bolak-balik ke lokasi yang sama. Kami bekerja penuh, bahkan tanpa libur,” katanya, menggambarkan ritme kerja yang tak kenal jeda.
Ke depan, DLH berencana memperketat pengawasan di titik-titik rawan. Koordinasi dengan aparat wilayah juga akan ditingkatkan, termasuk membuka opsi penindakan bagi pelanggar yang masih membandel.
