TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Hujan ekstrem kembali “unjuk gigi” di Kota Tasikmalaya, Kamis sore (2/4/2026), dan kali ini bukan sekadar genangan biasa.
Di Kampung Cikalang, Kelurahan Cikalang, Kecamatan Tawang, air meluap seperti tak lagi mengenal batas.
Sungai Cikalang yang kewalahan menampung debit air akhirnya meluber ke permukiman warga.
Baca Juga:Lampu Merah Padam, Wali Kota Tasikmalaya Ikut Menyala!19 Titik Banjir, 2 Pohon Tumbang, 4 Kerusakan Rumah dan Infrastruktur: Hujan Ekstrem di Kota Tasikmalaya
Sedikitnya 22 rumah terendam, terutama di RT 01/06 dan RT 05/06. Ketinggian air bervariasi, dari semata kaki hingga lutut orang dewasa.
Warga pun sigap menyelamatkan barang berharga. Namun seperti musim hujan sebelumnya, harapan agar air cepat surut kerap berujung jadi rutinitas yang melelahkan.
Ketua RT 01/06, Zaenal Kamal, menyebut banjir kali ini di luar kebiasaan.
“Biasanya wilayah kami tidak terdampak. Tapi sekarang malah ikut terendam. Ini mungkin yang pertama kali separah ini,” ujarnya.
Ia menambahkan, selain hujan deras selama dua jam, air kiriman dari wilayah lain turut memperparah kondisi. Sebuah sinyal lama: persoalan drainase kota belum juga selesai.
Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, langsung turun ke lokasi bersama jajaran BPBD, Dinas PUTR, serta unsur TNI-Polri.
Penanganan darurat dilakukan, mulai dari pembersihan hingga distribusi bantuan.
“Respon cepat jadi prioritas. Semua elemen bergerak, termasuk OPD terkait, BPBD, TNI, dan kepolisian,” tuturnya di lokasi.
Baca Juga:Hujan Ekstrem Sore Hari, Jalur Pusat Pertokoan di Kota Tasikmalaya Banjir GenanganViman Tegaskan IPM Kota Tasikmalaya 2025 Naik, Tapi Kemiskinan Masih Jadi PR Besar
Menurutnya, banjir di Cikalang bukan semata soal curah hujan tinggi, tetapi juga dipicu masalah di hilir, tepatnya pada pintu air Gunung Mindi yang dinilai sudah tidak mampu menampung debit air.
“Aliran dari hulu sangat deras, tapi pintu air di hilir tidak berfungsi optimal. Ini perlu rekayasa, ke depan akan dibangun sistem seperti bendung atau mercu agar aliran lebih terkendali,” jelasnya.
Ia menegaskan, solusi tidak akan berhenti di penanganan jangka pendek.
Pemerintah akan mengkaji langkah jangka panjang, termasuk normalisasi aliran sungai dan koordinasi lintas kewenangan dengan BBWS serta PSDA Jawa Barat.
“Besok akan dilakukan identifikasi bersama BBWS dan konsultan. Kita dorong percepatan penanganan, termasuk rekayasa pintu air,” katanya.
