SDM Kota Tasikmalaya Terendah (2): Efek yang Tidak Terlihat, Tapi Terasa!

Sdm tasikmalaya
Ilustrasi: AI
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Angka itu ternyata tidak berhenti di laporan. Ia merembet ke mana-mana. Diam-diam. Tapi pasti.

Ketika Indeks Pembangunan Manusia Kota Tasikmalaya berada di posisi kedua dari bawah, dampaknya tidak hanya soal peringkat. Ia ikut menentukan wajah ekonomi. Bahkan masa depan kota.

Yang pertama terasa: tenaga kerja. Perusahaan tidak pernah bicara keras soal ini. Tapi mereka menghitung. Mereka memilih. Mereka mencari SDM yang siap pakai.

Dan sering kali bukan di sini jawabannya.

Baca Juga:KA Ciremai Tertahan Longsor di Jalur Maswati-SasaksaatSDM Kota Tasikmalaya Terendah Kedua dari Bawah se-Jawa Barat!

Akibatnya, banyak anak muda Kota Tasikmalaya yang harus pergi. Merantau ke Kota Bandung. Atau ke Kota Bekasi. Bahkan ke luar Jawa Barat. Yang pergi biasanya yang terbaik. Yang bertahan? Tidak selalu yang paling siap.

Itu efek kedua: brain drain. Kota kehilangan energi terbaiknya. Pelan-pelan. Tapi konsisten. Lalu efek berikutnya, investasi. Investor itu rasional. Mereka tidak hanya melihat lahan kosong atau insentif pajak. Mereka melihat kualitas manusia.

Kalau SDM dianggap belum siap, biaya pelatihan jadi tinggi. Risiko jadi besar. Maka pilihan paling aman, pindah ke kota lain.

Akhirnya lingkaran itu terbentuk. SDM rendah → investasi minim → lapangan kerja terbatas → daya beli stagnan → SDM sulit naik. Lingkaran setan.

Dan Kota Tasikmalaya ada di tengahnya.

Efek lain yang sering luput, pelayanan publik. SDM bukan hanya milik swasta. Ia juga wajah birokrasi. Ketika kualitas manusia belum optimal, pelayanan pun terasa biasa saja. Tidak buruk. Tapi juga tidak istimewa.

Padahal masyarakat sekarang berubah. Mereka membandingkan. Dengan Kota Depok. Dengan Kota Cimahi. Bahkan dengan kota-kota yang dulu dianggap setara.

Dan ketika perbandingan itu muncul, satu hal ikut tumbuh: ketidakpuasan. Ini bukan lagi soal angka 76,59. Ini soal rasa. Rasa tertinggal. Rasa bisa lebih baik, tapi belum tercapai.

Baca Juga:Alhamdulillah, 75 Siswa MAN 1 Tasikmalaya Lulus SNBPLPS Catatkan Laporan 100% Tingkat Pelaporan SPT dan LHKPN untuk Tahun 2025

Namun yang paling mengkhawatirkan justru efek jangka panjang. Generasi berikutnya. Jika kualitas pendidikan, kesehatan, dan ekonomi tidak melonjak, maka anak-anak hari ini akan mewarisi posisi yang sama. Atau bahkan lebih rendah.

Di situlah sebenarnya alarm itu berbunyi. Pelan. Tapi terus-menerus. Pertanyaannya sekarang bukan lagi: kenapa kita di posisi ini. Tapi: mau sampai kapan? (red)

0 Komentar