RADARTASIK.ID – Kegagalan tim nasional Italia kembali menembus putaran final Piala Dunia memicu gelombang kritik dari berbagai pihak.
Salah satu suara paling tajam datang dari mantan presiden Inter Milan, Massimo Moratti, yang menilai situasi saat ini sebagai krisis besar yang tidak bisa lagi ditoleransi.
Italia dipastikan kembali absen dari Piala Dunia 2026 setelah kalah dramatis dari Bosnia-Herzegovina melalui adu penalti.
Baca Juga:Simone Inzaghi Kandidat Terkuat Pengganti Gattuso di Timnas ItaliaMichael Cuomo Sindir Rafael Leao: Ia Seperti Mobil Ferrari Bermesin Kecil
Ini menjadi kegagalan ketiga secara beruntun setelah sebelumnya juga tersingkir pada edisi 2018 dan 2022.
Kondisi yang mempertegas bahwa Azzurri tengah berada dalam fase kemunduran serius.
Dalam wawancaranya bersama Tuttomercatoweb (TMW), Moratti tidak ragu menyebut situasi ini sebagai “bencana”.
Ia menilai tim nasional Italia saat ini tidak mampu memenuhi tanggung jawab besar yang melekat pada status mereka sebagai salah satu kekuatan tradisional sepak bola dunia.
Sorotan utama Moratti tertuju pada pelatih Gennaro Gattuso yang dianggapnya telah mengambil beban yang terlalu besar untuk kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia.
“Gattuso telah memikul tanggung jawab yang melebihi kemampuannya. Mungkin tidak ada gunanya terus mempertahankan situasi ini,” ujar Moratti.
Tak hanya berhenti pada Gattuso, Moratti juga mengkritik struktur kepemimpinan sepak bola Italia secara keseluruhan.
Baca Juga:Juventus Terancam Kehilangan Tiga Pemain Andalan Jika Gagal Lolos ke Liga ChampionsGianfranco Teotino Tuding Formasi 3-5-2 yang Buat Italia Gagal Lolos ke Piala Dunia
Ia menyebut bahwa dari pucuk pimpinan hingga jajaran di bawahnya harus melakukan refleksi mendalam.
Dalam pernyataannya, ia turut menyinggung sosok Gabriele Gravina sebagai bagian dari sistem yang perlu bertanggung jawab atas kegagalan ini.
Menurut Moratti, para petinggi federasi seharusnya mampu menempatkan diri pada posisi publik yang kecewa.
Ia menilai, jika mereka benar-benar memahami perasaan masyarakat, maka keputusan untuk mundur seharusnya menjadi hal yang tidak sulit diambil.
“Tim nasional adalah milik semua orang. Jadi tidak perlu heran atau tersinggung jika publik meminta perubahan. Jika seseorang tidak mampu memenuhi ekspektasi, maka mundur adalah langkah yang wajar,” tegasnya.
Lebih jauh, Moratti menilai bahwa permasalahan Italia tidak bisa diselesaikan dengan solusi jangka pendek.
Ia menekankan pentingnya perencanaan yang matang dan berkelanjutan untuk membangun kembali fondasi sepak bola nasional.
