Malioboro Kota Tasikmalaya Meredup: Trotoar Dikuasai PKL, Lampu Padam, Parkir Semrawut

kondisi Jalan KHZ Mustofa Kota Tasikmalaya terbaru
Suasana trotoar Jalan KHZ Mustofa yang dijuluki Malioboro Tasik, disebut warga sudah tidak estetik. Ayu Sabrina Barokah / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Julukan “Malioboro-nya Tasik” yang sempat disematkan pada kawasan Jalan KHZ Mustofa, Kota Tasikmalaya, kini terasa seperti kenangan yang terlalu cepat usang.

Proyek yang dulu digadang-gadang menjadi etalase kota, perlahan kehilangan cahaya—secara harfiah dan makna.

Empat tahun sejak diresmikan pada 2022, wajah kawasan itu tak lagi seterang dulu.

Baca Juga:Jenazah Pria Ditemukan di Kamar Mandi Dadaha Kota TasikmalayaAlarm Kerja Nyata PDI Perjuangan Kota Tasikmalaya dari Ono Surono

Lampu hias yang sempat menjadi simbol estetika kini banyak yang padam. Tiang-tiang berdiri gagah, tapi tanpa fungsi. Kota ini seperti lupa menyalakan saklar yang pernah dibanggakan.

Trotoar yang seharusnya menjadi ruang aman bagi pejalan kaki, kini berubah fungsi.

Lapak pedagang kaki lima (PKL) menjamur tanpa pola, memaksa pejalan kaki turun ke badan jalan.

Sementara kendaraan parkir seenaknya, menambah sempit ruang gerak di kawasan yang dulu dirancang ramah manusia.

Rina (27), warga yang kerap melintas, mengaku perubahan itu terasa nyata. Dari yang awalnya nyaman, kini justru merepotkan.

“Dulu rapi, enak buat jalan kaki. Malam juga terang. Sekarang lampu banyak mati, trotoar penuh jualan,” ujarnya, Rabu (1/4/2026).

Ia bahkan kerap harus mengalah—turun ke jalan demi sekadar melanjutkan langkah. Sebuah ironi di ruang yang dibangun atas nama pejalan kaki.

Baca Juga:37 Prajurit Kodim Tasikmalaya Naik Pangkat, Dandim: Jangan Sekadar SimbolKetika Damkar Kota Tasikmalaya Jadi Ojek Kemanusiaan, Ibu Hamil Diantar Pulang karena Habis Ongkos

Senada, Andi (34) menilai kawasan tersebut kehilangan arah. Konsep yang dulu digagas serius, kini seperti dibiarkan berjalan tanpa pengawasan.

“Dulu mau dibuat seperti Malioboro. Tapi sekarang tidak terawat. Parkir sembarangan, jadi semrawut lagi,” tuturnya.

Menurutnya, parkir liar menjadi salah satu biang kemacetan.

Saat sore hingga malam, ruas Jalan KHZ Mustafa kerap tersendat akibat kendaraan yang berhenti seenaknya.

Fenomena ini menunjukkan pergeseran fungsi ruang publik di Kota Tasikmalaya.

Dari kawasan pedestrian-friendly menjadi ruang kompromi antara ekonomi informal dan ketidaktertiban.

PKL memang bagian dari denyut kota, tapi tanpa penataan, mereka berubah dari solusi menjadi masalah.

Warga berharap pemerintah tidak sekadar mengingat proyek ini sebagai seremoni masa lalu.

Penataan ulang dinilai mendesak—tanpa harus mematikan roda ekonomi yang sudah berjalan.

0 Komentar