Lebih lanjut, ia juga mengusulkan reformasi menyeluruh dalam hubungan antara klub dan tim nasional.
Salah satunya adalah memberikan kompensasi kepada klub yang “meminjamkan” pemainnya ke tim nasional, serta jaminan asuransi penuh jika terjadi cedera.
“Dengan 16 tim, jumlah pertandingan yang lebih sedikit, dan lebih banyak waktu untuk tim nasional, kita bisa membangun kembali kekuatan Italia. Klub juga harus mendapatkan kompensasi yang layak, dan pemain harus dilindungi dengan asuransi penuh,” tambahnya.
Baca Juga:Moratti: Tak Ada Gunanya Gattuso Memikul Tanggung Jawab Melebihi KemampuannyaEnzo Fernandez Beri Sinyal Ingin Gabung Real Madrid
Di akhir pernyataannya, De Laurentiis juga menyinggung sosok Giovanni Malagò sebagai figur yang dinilai mampu membawa perubahan.
Menurutnya, Malagò adalah sosok profesional yang terbukti mampu memberikan kontribusi nyata.
Ia bahkan yakin bahwa jika Malagò memimpin reformasi sepak bola Italia, kebangkitan bisa terjadi dalam waktu singkat.
“Malagò adalah orang yang terbiasa memberikan yang terbaik. Ia punya kerendahan hati dan kapasitas. Jika ia mengambil alih sepak bola Italia, saya yakin dalam dua tahun kita bisa kembali menjadi kuat,” pungkasnya.
Pernyataan De Laurentiis ini menjadi refleksi keras atas kondisi sepak bola Italia saat ini.
Dengan tekanan yang semakin besar, reformasi tampaknya bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak jika Italia ingin kembali bersaing di level tertinggi dunia.
