TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Program Sekolah Rakyat (SR) di Kota Tasikmalaya masih berjalan di tempat.
Pemerintah kota mengakui hingga kini belum menetapkan lokasi pasti, meski rencana pengadaan lahan mulai disiapkan.
Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, menyebut proses SR saat ini masih berada pada tahap awal lintas organisasi perangkat daerah (OPD).
Baca Juga:WFH ASN Kota Tasikmalaya Mulai Jumat Pekan Kedua April Tanggal 10, Layanan Tetap JalanDari Cilamajang ke Ciwulan, Jejak Terakhir Korban Hanyut di Kota Tasikmalaya
Fokus utama tahun ini adalah menyiapkan mekanisme pengadaan lahan sesuai regulasi.
“Sudah dirapatkan lintas SKPD, OPD. Tahun ini kita mulai proses pengadaan lahan. Tapi semua harus sesuai aturan,” ujarnya, Rabu (1/4/2026).
Ia menjelaskan, pembangunan fisik Sekolah Rakyat kemungkinan baru terealisasi pada 2028. Sementara 2027 difokuskan pada pematangan lahan.
“Pembangunan kemungkinan di 2028. Tahun 2027 kita siapkan lahan yang matang,” katanya.
Saat ini, Kota Tasikmalaya baru memiliki program rintisan berupa tiga rombongan belajar (rombel), terdiri dari jenjang SD dan SMP.
Untuk kelanjutannya, siswa akan diarahkan ke Sekolah Rakyat terdekat yang sudah tersedia di luar daerah, salah satunya di Cirebon.
“Yang rintisan ini nanti dilanjutkan ke Sekolah Rakyat permanen yang terdekat, sementara ini ke Cirebon,” jelasnya.
Baca Juga:Muscab PPP di “Kandang Tetangga”!Jenazah Pria Ditemukan di Sungai Ciwulan, Diduga Korban Hanyut Kawalu Kota Tasikmalaya
Namun, untuk pembangunan permanen di Kota Tasikmalaya, kendala utama ada pada ketersediaan lahan.
Pemerintah pusat mensyaratkan minimal luas 7,5 hektare, sementara lahan yang sesuai belum tersedia.
Pemkot kini mengkaji tujuh titik lokasi sebagai calon lahan.
Namun, penetapan lokasi masih menunggu proses penetapan lokasi (penlok) dan kajian dari pemerintah provinsi, mengingat kebutuhan lahan mencapai lebih dari lima hektare.
“Belum ada titik final. Ada tujuh lokasi, nanti kita lihat mana yang paling layak dan sesuai spesifikasi,” tambahnya.
Di sisi lain, kritik datang dari kalangan akademisi. Asep M Tamam menilai program SR sangat mendesak bagi Kota Tasikmalaya yang masih memiliki angka kemiskinan tinggi di Jawa Barat.
“SR ini penting untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan gratis,” tuturnya.
Ia menyayangkan belum adanya percepatan signifikan dari pemerintah daerah. Menurutnya, kepemimpinan muda seharusnya mampu bergerak lebih cepat.
“Harusnya bisa lebih sat set. Jangan malah terjebak ritme lamban,” sindirnya.
