SDM Kota Tasikmalaya Terendah Kedua dari Bawah se-Jawa Barat!

Sdm kota tasikmalaya
Tibgkatan IPM kabupaten kota di Jabar (Jabar stats)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Angka itu seperti tamparan pelan. Tidak keras. Tapi terasa.

Kota Tasikmalaya—kota santri, kota jasa, kota yang sering merasa cukup ternyata masih berada di papan bawah.

Bukan paling bawah. Tapi kedua dari bawah. Itu terlihat dari data yang dirilis Jabar Stats.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2025 menempatkan Kota Tasikmalaya di angka 76,59.

Baca Juga:Alhamdulillah, 75 Siswa MAN 1 Tasikmalaya Lulus SNBPLPS Catatkan Laporan 100% Tingkat Pelaporan SPT dan LHKPN untuk Tahun 2025

Posisi kesembilan dari sepuluh besar. Satu tingkat di atas Kabupaten Bandung yang berada di angka 75,58.

Di atasnya? Jauh. Sangat jauh. Kota Bandung berdiri di puncak dengan 84,66. Disusul Kota Bekasi, Kota Depok, hingga Kota Bogor. Semua di atas 79. Bahkan sebagian tembus 84.

Jaraknya bukan lagi selisih. Tapi jurang. Padahal, statusnya sama: kota. Ini yang menarik. Selama ini kita sering menyalahkan desa. Menyalahkan kabupaten. Menyalahkan keterbatasan geografis. Tapi ketika sesama kota dibandingkan hasilnya tetap timpang.

Berarti ada yang lain. IPM itu bukan sekadar angka. Ia adalah ringkasan dari tiga hal: pendidikan, kesehatan, dan daya beli. Tiga-tiganya butuh perhatian. Tiga-tiganya butuh keberanian kebijakan.

Dan di situlah soal sebenarnya. Apakah pendidikan di Kota Tasikmalaya sudah benar-benar menjadi prioritas? Apakah layanan kesehatannya sudah merata, bukan hanya ada? Apakah masyarakatnya punya daya beli yang terus naik, atau justru stagnan?

Jawabannya terasa dari angka itu. Belum. Atau setidaknya belum cukup. Selama ini pembangunan sering terlihat ramai. Jalan diperbaiki. Gedung berdiri. Acara digelar. Tapi IPM tidak mudah dibohongi. Ia tidak peduli seremoni. Ia hanya mencatat hasil.

Dan hasilnya: posisi kedua dari bawah. Ironisnya, ini terjadi ketika kota-kota lain berlari. Kota Bandung melesat dengan konsistensi. Kota Bekasi dan Kota Depok memanfaatkan kedekatan dengan pusat ekonomi. Kota Cimahi bahkan berhasil menembus 80 lebih.

Baca Juga:Di Kota Tasikmalaya Sampah Seperti Ikut Lebaran, Armada Ditambah, Kadis Sudah Baru, Lalu Apa Masalahnya?Suara yang Sempat Menggema, Lalu Menghilang!

Sementara Kota Tasikmalaya? Masih berjuang di angka 76. Ini bukan untuk menyalahkan. Ini untuk menyadarkan. Bahwa membangun manusia tidak bisa instan. Tidak cukup satu periode. Tidak cukup satu program unggulan. Ia butuh kesabaran. Tapi juga butuh arah yang jelas.

Kalau tidak, kita akan terus berada di posisi itu. Kedua dari bawah. Dan lebih berbahaya lagi merasa itu sudah cukup. Padahal, jelas belum. (red)

0 Komentar