TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Aroma tak sedap kembali menyapa warga di sejumlah ruas jalan di Kota Tasikmalaya, sepekan setelah Lebaran.
Tumpukan sampah yang menggunung bukan sekadar pemandangan musiman, melainkan pengingat bahwa problem lama belum juga benar-benar dibereskan.
Keluhan warga mencuat dari berbagai titik. Mulai dari keterlambatan pengangkutan hingga kondisi lingkungan yang kian kumuh.
Baca Juga:Jenazah Pria Ditemukan di Kamar Mandi Dadaha Kota TasikmalayaAlarm Kerja Nyata PDI Perjuangan Kota Tasikmalaya dari Ono Surono
Situasi ini menegaskan satu hal: persoalan sampah di Kota Tasikmalaya masih berputar di lingkaran yang sama—datang, dikeluhkan, lalu terulang.
Padahal, Pemerintah Kota Tasikmalaya sempat mengambil langkah yang dianggap “berani”.
Anggaran mobil dinas Wali Kota senilai Rp3,6 miliar dialihkan untuk pengadaan kontainer sampah dan dump truck.
Di atas kertas, kebijakan ini tampak progresif. Namun di lapangan, hasilnya belum menggigit.
Lonjakan Sampah, Sistem Kewalahan
Pasca-Lebaran, volume sampah melonjak tajam. Sayangnya, sistem pengangkutan belum cukup sigap mengimbangi lonjakan tersebut. Alhasil, sampah kembali menumpuk di berbagai titik.
Masalah tak berhenti di hulu. Di hilir, persoalan juga mengendap. Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di TPA Ciangir yang menelan anggaran sekitar Rp3,7 miliar belum berfungsi maksimal.
Mesin utamanya bahkan belum bisa dioperasikan karena belum tersambung listrik.
Ketua Komisi III DPRD Kota Tasikmalaya, Anang Sapa’at, menyebut kondisi air lindi masih keruh dan berbau—ironi dari proyek bernilai miliaran yang belum sepenuhnya “hidup”.
Armada Seadanya, Sampah Tak Menunggu
Baca Juga:37 Prajurit Kodim Tasikmalaya Naik Pangkat, Dandim: Jangan Sekadar SimbolKetika Damkar Kota Tasikmalaya Jadi Ojek Kemanusiaan, Ibu Hamil Diantar Pulang karena Habis Ongkos
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Tasikmalaya, Sandi Lesmana, mengakui keterbatasan armada menjadi kendala klasik. Bahkan, kendaraan yang sudah tak prima pun masih dipaksa beroperasi.
“Armada kita bervariasi, ada yang bagus, ada juga yang rusak tapi tetap dipakai karena tidak ada pengganti,” ujarnya.
Dengan produksi sampah sekitar 120 ton per hari, pengangkutan hanya ditopang sekitar 40 unit truk.
Angka yang pas-pasan—bahkan cenderung “nekat”—untuk ukuran beban kerja sebesar itu.
Ketika satu-dua armada mogok, efek domino langsung terasa. Ritase terganggu, antrean di TPA Ciangir mengular, dan pengangkutan di dalam kota pun ikut tersendat.
