TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Sirine itu biasanya identik dengan api. Tapi di Kota Tasikmalaya, suara kendaraan pemadam kebakaran justru mengantar pulang harapan.
Selasa sore (31/3/2026), sekitar pukul 15.30 WIB, sebuah panggilan masuk ke call center Damkar. Bukan laporan kebakaran, melainkan suara panik seorang suami dari perantauan.
Istrinya, Norita Lestasi, tengah hamil enam bulan, terjebak di Stasiun Tasikmalaya tanpa ongkos untuk melanjutkan perjalanan ke rumahnya.
Baca Juga:Sekolah Rakyat di Kota Tasikmalaya Masih Abu, Lahan Baru Diurus 2027WFH ASN Kota Tasikmalaya Mulai Jumat Pekan Kedua April Tanggal 10, Layanan Tetap Jalan
Cerita itu, bagi sebagian birokrasi, mungkin bukan “urusan dinas”. Tapi tidak bagi petugas Damkar. Hal itu dibenadkan Plt Kalak BPBD dan Damkar Kota Tasikmalaya, Hanafi.
“Memang bukan tupoksi kami secara langsung. Tapi kalau masyarakat minta bantuan dan kita mampu, ya kenapa tidak dibantu,” ujarnya, Rabu (1/4/2026), dengan nada ringan yang justru terasa menampar logika pelayanan publik yang sering kaku.
Hanafi mengisahkan, laporan itu datang melalui WhatsApp kemarin Selasa (31/3/2026).
Sang suami, yang kehabisan cara setelah menghubungi kerabat tanpa hasil, nekat menghubungi nomor Damkar—mungkin satu-satunya nomor darurat yang ia tahu.
Tanpa rapat, tanpa disposisi berlapis, keputusan diambil cepat: bantu.
“Mobil ada, bensin juga tidak seberapa. Ya sudah, jemput saja,” katanya.
Tak lama, petugas Damkar meluncur ke stasiun. Mereka menemukan Norita—masih muda, sesuai dengan laporan—dalam kondisi kebingungan.
Bukan hanya kehabisan ongkos, ia juga membawa beban cerita: seorang ibu yang sakit-sakitan di kampung halaman, yang sudah lama tak ditemui.
Perjalanan dari stasiun menuju Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya bukan sekadar rute geografis. Itu adalah perjalanan pulang yang tertunda oleh keadaan—dan disambung oleh empati.
Baca Juga:Dari Cilamajang ke Ciwulan, Jejak Terakhir Korban Hanyut di Kota TasikmalayaMuscab PPP di “Kandang Tetangga”!
Koordinator Lapangan Damkar, Hendrik Setiana, menambahkan bahwa Norita akhirnya diantar hingga ke rumah ibunya.
Kondisi sang ibu pun disebut memprihatinkan, bahkan telah kehilangan satu ginjal.
“Ibunya sudah lama sakit, dan sudah dua tahun tidak bertemu anaknya,” tuturnya.
Di tengah perjalanan itu, kendaraan Damkar menjelma menjadi lebih dari sekadar alat negara.
Ia menjadi simbol—bahwa pelayanan publik tak selalu harus kaku dalam aturan, tapi lentur dalam kemanusiaan.
