“Kesalahan itu berat seperti batu besar. Itu mengubah segalanya,” lanjutnya.
Meski demikian, ia juga menyinggung kegagalan di babak adu penalti yang melibatkan Francesco Pio Esposito dan Bryan Cristante.
Namun, Sabatini menilai kegagalan penalti masih bisa dimaklumi.
“Penalti bisa gagal, bahkan pemain terbaik dunia pun pernah mengalaminya. Itu bagian dari sepak bola dan bisa diterima,” jelasnya.
Baca Juga:Gattuso Minta Maaf Italia Gagal Lolos ke Piala DuniaAS Roma Minta Dybala Turun Gaji, Randal Kolo Muani Ngotot Kembali ke Juventus
Yang justru menuai kecaman keras adalah pernyataan Presiden Federasi Sepak Bola Italia, Gabriele Gravina, usai pertandingan.
Gravina memberikan pujian kepada para pemain dan pelatih, sesuatu yang dianggap Sabatini sangat tidak pantas dalam situasi seperti ini.
“Kami tersingkir lagi dari Piala Dunia. Setelah Swedia, Makedonia Utara, sekarang Bosnia. Lalu kita masih memberikan pujian? Itu terasa tidak masuk akal, bahkan cenderung konyol,” kritiknya tajam.
Menurut Sabatini, sikap seperti itu justru memperlihatkan kegagalan dalam memahami besarnya masalah.
Alih-alih melakukan evaluasi serius, federasi dinilai justru mencoba menutupi kenyataan pahit.
Ia menegaskan bahwa sepak bola Italia membutuhkan kejujuran dan keberanian untuk mengakui kesalahan. Tanpa itu, perubahan hanya akan menjadi wacana kosong.
“Menyapu masalah ke bawah karpet tidak akan menyelesaikan apa pun. Jika mereka yang mengelola sepak bola Italia belum menyadari hal ini, maka harapan untuk perubahan hampir nol,” tulisnya.
Sabatini juga menyoroti narasi pasca-pertandingan yang dinilainya semakin memperburuk situasi.
Baca Juga:Tak Mau Jadi Cadangan di Barcelona, Juventus dan AC Milan Siap Tampung Robert LewandowskiInzaghi Ajak Acerbi Pindah ke Arab Saudi: Al Hilal Siapkan Kontrak Dua Tahun
Pernyataan tentang “kesalahan wasit”, “pemain heroik”, hingga “pujian” dianggap sebagai kombinasi kata-kata yang menyakitkan bagi publik Italia.
“Tidak ada lagi yang lucu. Bahkan terasa lebih mengejutkan daripada pertandingan itu sendiri,” pungkasnya.
Kegagalan ini kini menjadi titik nadir baru bagi Italia. Lebih dari sekadar hasil di lapangan, ini adalah krisis identitas yang menuntut perubahan nyata—bukan sekadar kata-kata.
