Teotino menyebut sistem tersebut sebagai salah satu faktor yang berkontribusi terhadap stagnasi permainan Italia.
“Formasi 3-5-2 ini adalah ‘kematian sepak bola’. Ini bukan soal selera bermain indah atau tidak, tetapi soal efektivitas,” ujarnya lugas.
Menurutnya, jika melihat sejarah sepak bola dunia, tim-tim yang sukses justru menggunakan sistem pertahanan empat bek dengan dukungan pemain sayap yang eksplosif.
Baca Juga:Tawaran Rp850 Miliar Ditolak Inter, Barcelona Siap Korbankan Dani Olmo Demi Alessandro BastoniJurnalis Italia: Bursa Transfer Januari Bikin Gasperini dan Massara Tak Akur
“Coba lihat tim-tim juara. Mereka bermain dengan empat bek dan mengandalkan sayap. Itu yang membawa hasil,” tambahnya.
Teotino juga menyayangkan keputusan Gattuso yang dinilai mengikuti tren umum di Serie A dengan mengadopsi 3-5-2, meski sebelumnya dikenal memiliki pendekatan taktik berbeda.
“Gattuso sebenarnya memulai dengan ide lain, tetapi akhirnya menyesuaikan diri dengan arus utama di Serie A. Dan hasilnya sudah terlihat,” katanya.
Di akhir analisanya, Teotino menyimpulkan bahwa kegagalan Italia bukan sekadar soal hasil pertandingan, melainkan cerminan dari sistem yang tidak lagi mampu berkembang.
“Lebih dari ini, sepak bola kita tidak mampu menghasilkan apa-apa,” pungkasnya.
Kritik ini semakin memperjelas bahwa Italia kini berada di titik nadir, membutuhkan perubahan mendasar, bukan hanya pergantian pelatih atau pemain.
Tanpa reformasi menyeluruh, bayang-bayang kegagalan serupa berpotensi terus menghantui di masa depan.
