RADARTASIK.ID – Kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia kembali memicu perdebatan panjang tentang akar masalah sepak bola negeri tersebut.
Dari studio Sky Sport, jurnalis senior Gianfranco Teotino melontarkan kritik tajam yang tidak hanya menyasar hasil di lapangan, tetapi juga sistem yang selama ini berjalan.
Dalam analisanya, Teotino menegaskan bahwa persoalan utama tidak bisa semata-mata dibebankan kepada pelatih Gennaro Gattuso atau bahkan tim nasional itu sendiri.
Baca Juga:Tawaran Rp850 Miliar Ditolak Inter, Barcelona Siap Korbankan Dani Olmo Demi Alessandro BastoniJurnalis Italia: Bursa Transfer Januari Bikin Gasperini dan Massara Tak Akur
Ia melihat masalah Italia jauh lebih dalam dan telah berlangsung lama tanpa ada perbaikan nyata.
“Saya tidak tahu apakah Gattuso adalah masalah utama atau hanya salah satu dari sekian banyak masalah. Namun, persoalan sepak bola Italia bukan hanya ada pada pelatih atau tim nasional,” ujarnya dikutip dari Tuttomercatoweb.
Teotino juga menyoroti budaya yang berkembang di dalam tim, yang menurutnya terlalu banyak dibungkus narasi kebersamaan tanpa diimbangi hasil konkret di lapangan.
Ia mengkritik pendekatan yang lebih menekankan harmoni tim dibanding efektivitas permainan.
“Kita terlalu sering berbicara tentang kebersamaan, makan malam bersama, dan hal-hal seperti itu. Padahal yang terpenting adalah memenangkan pertandingan,” tegasnya.
Ia bahkan membandingkan dengan banyak tim sukses di masa lalu yang tidak selalu memiliki hubungan harmonis di dalam skuad, tetapi tetap mampu meraih kemenangan berkat kualitas permainan.
“Sejarah penuh dengan tim yang para pemainnya tidak akur, bahkan bertengkar, tetapi tetap menang di lapangan,” lanjutnya.
Baca Juga:Italia Gagal Lolos ke Piala Dunia, Sandro Sabatini: Bastoni Akan Memikul Tanggung Jawab yang Sangat LamaGattuso Minta Maaf Italia Gagal Lolos ke Piala Dunia
Lebih jauh, Teotino menilai kegagalan ini merupakan akumulasi dari masalah yang sudah muncul sejak tersingkirnya Italia pada 2017.
Namun, hingga kini, ia tidak melihat adanya reformasi signifikan yang dilakukan oleh federasi.
“Sejak kegagalan pertama itu, tidak ada perubahan berarti. Tidak ada reformasi, tidak ada langkah konkret,” kritiknya.
Ia juga menyoroti kualitas kompetisi domestik yang dinilainya menurun.
Serie A, menurutnya, tidak lagi kompetitif di level Eropa dan gagal menghasilkan tim yang mampu bersaing di panggung internasional.
Namun, kritik paling keras diarahkan pada pendekatan taktik yang digunakan, khususnya formasi 3-5-2.
