Tapi. Bisa jadi, dari ruang-ruang hotel itulah, arah politik Jawa Barat mulai digeser pelan-pelan. Tanpa suara. Tanpa gaduh. Dan publik? Biasanya baru sadar. Ketika semuanya sudah menjadi kenyataan.
Inilah yang dalam politik disebut soft signal. Sinyal halus. Tidak ada deklarasi. Tidak ada tanda tangan. Tidak ada baliho “koalisi resmi”.
Tapi semua orang tahu: ada sesuatu yang sedang dibangun. PPP butuh ruang baru. Gerindra butuh kawan baru.
Baca Juga:Jenazah Pria Ditemukan di Sungai Ciwulan, Diduga Korban Hanyut Kawalu Kota TasikmalayaAntisipasi Cuaca Ekstrem, Reklame Jumbo di Kota Tasikmalaya Dipantau Ketat
Keduanya punya kepentingan yang sama: memperkuat posisi di tahun politik berikutnya. Dan Jawa Barat bukan wilayah kecil. Ini adalah medan tempur.
Di titik inilah Muscab berubah fungsi. Bukan hanya forum internal. Tapi juga “ruang temu”. Ruang membaca arah. Ruang menguji chemistry.
Apakah kader PPP nyaman berada di “rumah” Gerindra? Apakah Gerindra membuka pintu selebar itu? Apakah elit-elitnya bisa duduk satu meja tanpa sekat?
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan keluar lewat konferensi pers.
Tapi akan terlihat dari gestur. Dari cara menyapa. Dari siapa yang ngobrol paling lama di sela acara.
Politik Indonesia sering kali tidak dimulai dari deklarasi besar. Ia justru lahir dari pertemuan-pertemuan kecil. Dari kebiasaan bersama. Dari rasa saling percaya yang tumbuh pelan-pelan.
Tanggal 18 April nanti mungkin tidak akan ada kalimat: “Kami resmi berkoalisi.” Tidak akan ada itu.
Tapi Kalau setelah itu intensitas pertemuan meningkat. Kalau komunikasi makin cair. Kalau arah dukungan mulai terlihat sejalan. Maka publik tidak perlu menunggu pengumuman.
Baca Juga:Perbaikan Tembok Stadion Wiradadaha Dikebut, Kota Tasikmalaya Kejar WaktuIsu Kenaikan BBM 1 April Mencuat, Hiswanamigas Priangan Timur: Warga Jangan Terpancing
Karena sesungguhnya. Koalisi itu sering lahir bukan dari kata-kata. Tapi dari kebiasaan duduk bersama. Dan Mandalawangi. Tampaknya sedang menjadi awal dari kebiasaan itu. (red)
