TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang akan diberlakukan pada 1 April 2026 menimbulkan kekhawatiran luas di kalangan warga Kabupaten Tasikmalaya, terutama mereka yang sehari-hari bergantung pada kendaraan bermotor.
Kenaikan harga BBM jika diberlakukan diprediksi akan memperburuk kondisi ekonomi, khususnya bagi masyarakat menengah ke bawah.
Sejumlah warga Singaparna mengungkapkan rasa khawatir mereka.
Mereka merasa bahwa selain membebani anggaran transportasi, kenaikan harga BBM juga berpotensi memicu lonjakan harga barang kebutuhan pokok yang sudah sejak lama dirasakan berat oleh masyarakat.
Baca Juga:Sudah Resmi, BEI Berlakukan Batas Free Float 15 Persen, Bagaimana Perubahan Ini Akan Pengaruhi Pasar Modal?Audiensi Ditunda, DPRD Kota Tasikmalaya Disorot Abaikan Aspirasi Publik
Dedi, seorang pengemudi ojek di Singaparna, menjelaskan, kenaikan harga BBM di Kabupaten Tasikmalaya hampir dipastikan akan membuat ongkos transportasi ikut melambung.
Di saat bersamaan, kenaikan tarif ojek bisa mengurangi minta pelanggan naik ojek.
“Kalau BBM naik, otomatis ongkos juga ikut naik. Penghasilan tidak bertambah, tapi kebutuhan makin besar,” ujar pria berusia 45 tahun ini kepada Radartasik.id, Selasa, 31 Maret 2026.
Dedi berharap pemerintah dapat mempertimbangkan dengan matang kebijakan ini agar tidak semakin menambah beban warga kecil yang sudah kesulitan bertahan hidup.
Kelompok lain yang merasa paling terdampak oleh rencana kenaikan BBM adalah sopir angkutan kota.
Mamat, sopir angkot jurusan Singaparna–Sariwangi, mengungkapkan, kenaikan harga BBM di tengah penurunan jumlah penumpang sudah menjadi beban berat.
“Sekarang saja penumpang sudah berkurang. Kalau BBM naik, otomatis tarif harus naik, dan penumpang pasti akan keberatan,” ujar Mamat.
Baca Juga:Porsivitas Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya Resmi DimulaiMuscab PPP di “Kandang Tetangga”!
Menurutnya, bagi sopir angkot seperti dirinya, biaya operasional yang meliputi bahan bakar sangat bergantung pada harga BBM.
Kenaikan harga bahan bakar akan langsung menggerus pendapatan yang sudah semakin tipis.
“Kami setiap hari butuh BBM untuk narik. Kalau naik, tentu biaya operasional makin berat. Sopir angkot jadi salah satu yang paling terdampak,” katanya dengan nada pesimis.
Mamat berharap agar pemerintah membatalkan rencana kenaikan harga BBM, khususnya untuk jenis pertalite yang banyak digunakan oleh pengemudi angkutan umum dan masyarakat berpenghasilan rendah.
Keluhan serupa juga disampaikan oleh Burhan, seorang pedagang sembako di Pasar Tradisional Singaparna.
