GARUT, RADARTASIK.ID – Isu mengenai rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang cukup signifikan pada 1 April 2026 membuat warga Garut mulai cemas.
Isu yang beredar melalui media sosial X (sebelumnya Twitter) ini menyebutkan kemungkinan harga BBM nonsubsidi bisa melambung hingga Rp 17.000 per liter, suatu lonjakan yang dianggap drastis oleh masyarakat pengguna kendaraan pribadi.
Meski informasi ini bukan datang secara resmi dari pihak berwenang, masyarakat sudah merasakan dampak psikologisnya.
Baca Juga:Sudah Resmi, BEI Berlakukan Batas Free Float 15 Persen, Bagaimana Perubahan Ini Akan Pengaruhi Pasar Modal?Cara Jual Beli Akun Roblox yang Aman di 2026 Setelah Update Platform Terbaru
Seperti yang disampaikan Anggana, seorang warga Kecamatan Tarogong Kaler, kabar kenaikan harga BBM tersebut telah memicu kekhawatiran, terutama bagi mereka yang bergantung pada kendaraan pribadi dalam aktivitas sehari-hari.
“Kenaikan harga BBM ini memang sudah sering terjadi ya tapi ya kenaikannya hanya sedikit-sedikit,” ucap Anggana, Selasa, 31 Maret 2026, seraya menyatakan bahwa dirinya kerap menggunakan kendaraan pribadi untuk beraktivitas ke kantor dan berbagai kebutuhan lainnya.
Ia mengungkapkan, dengan anggaran sebesar Rp 50.000 yang biasanya cukup untuk bahan bakar selama 6 hingga 7 hari, jika harga BBM naik maka ia memprediksi hanya dapat bertahan selama 4 hingga 5 hari saja.
Kenaikan harga BBM yang tajam tentu saja akan menambah beban biaya hidup rutin, terutama bagi mereka yang memiliki mobilitas tinggi.
Selain masalah harga, stok BBM di lapangan juga menjadi perhatian.
Masyarakat khawatir bahwa jika harga sudah melambung tinggi, kelangkaan bahan bakar akan memperburuk keadaan dengan antrean panjang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
“Harapannya kalaupun harga naik, stoknya harus benar-benar terjamin. Jangan sampai sudah mahal, kita masih harus antre panjang,” ungkapnya.
Di sisi lain, ada pula warga yang merasa sedikit terhindar dari dampak kenaikan ini.
Baca Juga:Pertamina Buka Suara Soal Harga BBM Per 1 April 2026, Stok BBM untuk Jawa Barat Dipastikan AmanPungli di Pantai Selatan Garut Masih Jadi Masalah Utama, Warga Diminta Tanggap
Putri Azzahra, salah seorang pengguna BBM subsidi, menyatakan bahwa ia tidak terlalu merasa khawatir, karena harga BBM jenis pertalite yang biasa ia beli tidak akan terpengaruh.
Meski demikian, ia mengkhawatirkan potensi antrean panjang di SPBU, karena kemungkinan besar banyak warga yang akan beralih ke BBM subsidi demi menghindari kenaikan harga yang signifikan.
