Penampilannya menghadirkan kesan bahwa Indonesia tengah menemukan aset penting untuk masa depan.
Sebagai jebolan akademi Persija Jakarta, Dony Tri Pamungkas memang telah lama diproyeksikan menjadi salah satu fondasi Macan Kemayoran.
Dony Tri Pamungkas dikontrak Persija Jakarta hingga Juni 2028.
Hal itu menjadi bukti kepercayaan klub terhadap potensinya. Di bawah arahan Mauricio Souza, perannya terus berkembang menjadi salah satu elemen kunci di lini belakang.
Calvin Verdonk Terkesima dengan Gaya Permainan Dony Tri Pamungkas
Baca Juga:Terungkap, Persib Bidik Dony Tri Pamungkas di Era Ini, Kini Nyetel dengan Beckham Putra di Timnas IndonesiaGeger, Calvin Verdonk Klubnya Persib Bandung, Harga Transfernya Saat Ini Masih Rp 58 Miliar
Calvin Verdonk pun mengaku sudah menangkap kualitas itu bahkan sejak sesi latihan pertama bersama tim nasional.
Menurutnya, Dony memiliki gaya bermain yang menarik, kecerdasan membaca situasi, serta keberanian yang jarang dimiliki pemain seusianya.
Ia menyebut sangat menyukai cara bermain Dony dan mengaku banyak berdiskusi dengannya sejak awal pemusatan latihan.
Fleksibilitas dan Profesionalisme Tinggi Calvin Verdonk
Sementara itu, Verdonk sendiri kembali menunjukkan fleksibilitas dan profesionalisme tinggi selama membela Merah Putih.
Meski posisi naturalnya adalah bek kiri, pemain yang merumput di Eropa itu mengaku siap ditempatkan di mana saja sesuai kebutuhan tim.
Dalam turnamen ini, ia beberapa kali bergeser peran, mulai dari gelandang bertahan, bek tengah, hingga membantu sektor serang.
Baginya, posisi bukanlah persoalan utama. Yang terpenting adalah menjalankan instruksi pelatih demi kebutuhan tim.
Baca Juga:Kelas Eropa, Persib Dapat Amunisi Segar Pemain Timnas Indonesia Jelang Lawan Semen Padang di Pekan ke-26 Bojan Hodak Cari Pengganti Putros dan Matricardi di Persib, Bek Brasil dan Pemain Timnas Jadi Alternatif
Di balik hasil yang tidak berpihak, Verdonk juga melihat perkembangan signifikan dalam permainan Timnas Indonesia.
Menurutnya, skuad Garuda justru tampil lebih baik daripada Bulgaria dalam laga final.
Kekalahan 0-1, kata dia, tidak sepenuhnya merefleksikan jalannya pertandingan.
Indonesia memang tampil agresif dan lebih dominan dalam penguasaan bola maupun penciptaan peluang.
Ini menjadi sinyal positif, terutama karena laga tersebut merupakan pertandingan kompetitif pertama di bawah arahan John Herdman.
Verdonk menilai fondasi permainan tim mulai terlihat dan level permainan Indonesia meningkat dibanding laga-laga sebelumnya.
Secara statistik dan dinamika pertandingan, Indonesia memang beberapa kali nyaris memecah kebuntuan.
Peluang terbaik datang dari Ole Romeny, yang melepaskan sepakan lob cerdik namun hanya membentur mistar.
