TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Tren perilaku merokok di kalangan pelajar di wilayah kerja Puskesmas Bojonggambir, Kabupaten Tasikmalaya, menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Data terbaru mengungkap mayoritas pelajar mulai mencoba rokok pada usia sangat dini.
Berdasarkan Laporan Hasil Skrining Merokok Anak Sekolah Bojonggambir tahun 2025, ditemukan bahwa sebagian besar pelajar pertama kali mengonsumsi rokok pada rentang usia 10 hingga 13 tahun. Temuan ini menegaskan adanya paparan awal yang signifikan pada kelompok usia sekolah.
Menanggapi hal tersebut, Doni Juliana, SKM, selaku Penanggung Jawab Kesehatan Anak Usia Sekolah dan Remaja Puskesmas Bojonggambir, menekankan perlunya langkah penanganan yang lebih terintegrasi.
Baca Juga:Tingkatkan Kapasitas Instruktur Senam, Bidang Olahraga Disparpora Kabupaten Tasikmalaya Gelar PelatihanSerap Aspirasi Warga Tasikmalaya, Anggota DPRD Jabar Budi Mahmud Saputra Siap Kawal Pembangunan Desa
“Data ini menunjukkan bahwa pemicu utama adalah rasa penasaran dan pengaruh lingkungan atau teman sebaya,” ujarnya kepada Radar, Senin (30/3/2026).
Ia menjelaskan, kelompok usia 11 hingga 14 tahun menjadi fase paling rentan dalam memulai kebiasaan merokok. Kondisi ini menuntut keterlibatan tidak hanya dari tenaga kesehatan, tetapi juga orang tua dan pihak sekolah dalam memperkuat pengawasan serta pembinaan.
Meski tingkat pengetahuan siswa mengenai dampak buruk rokok mulai meningkat, Doni menilai hal itu belum cukup efektif tanpa dukungan lingkungan yang bebas asap rokok. Paparan dari lingkungan sekitar masih menjadi hambatan utama dalam upaya pencegahan dan penghentian kebiasaan tersebut.
Sebagai respons, Puskesmas Bojonggambir akan memperkuat program edukasi kesehatan di sekolah. Pendekatan yang dilakukan tidak hanya berupa penyampaian informasi, tetapi juga penguatan mental siswa agar mampu menolak tekanan dari teman sebaya.
“Data yang telah dihimpun tersebut, menyoroti bahwa rasa ingin tahu yang tinggi serta tekanan teman sebaya menjadi faktor utama pemicu perilaku menyimpang ini,” katanya.
Selain itu, hasil skrining juga menunjukkan dominasi konsumsi rokok konvensional dibandingkan rokok elektrik atau vape di kalangan pelajar. Akses terhadap rokok relatif mudah karena banyak siswa membeli secara eceran dengan harga yang terjangkau.
Tingkat konsumsi pun tergolong tinggi. Dari hasil skrining, sejumlah pelajar tercatat merokok setiap hari dengan jumlah yang bervariasi.
Baca Juga:Anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya Karom Apresiasi Respons Pemda Soal Skema Gaji PPPK Paruh WaktuSSF Bersama Jampidum Menebar Kebaikan di Tasikmalaya, Bagikan Ratusan Sembako dan Santuni Anak Yatim
“Banyak siswa yang teridentifikasi merokok setiap hari dengan jumlah konsumsi mencapai 1 hingga 12 batang per hari,” bebernya.
