“Kita tidak mau seperti turnamen biasa, anak-anak diporsir. Maksimal mungkin dua pertandingan dalam sehari,” tegas Wahid.
Liga Jabar Istimewa ini diharapkan menjadi ruang pembinaan yang lebih sehat dan merata.
Bukan sekadar mencari juara, tapi memberi kesempatan bermain bagi semua—sesuatu yang sering kali luput dalam hiruk-pikuk kompetisi.
Baca Juga:Sampah Lebaran Menggunung, Kritik Manajemen Talenta Pemkot Tasikmalaya MenguatHalal Bihalal Sambil Jelaskan Mengapa Kota Tasikmalaya Hindari Utang dan Pilih Perkuat Keuangan Daerah
Di tengah euforia sepak bola, konsep ini seolah menjadi pengingat: jangan sampai mimpi besar anak-anak justru kandas karena ego kemenangan yang terlalu dini. (rezza rizaldi)
