Tak hanya berhenti di Kemensos, Komeng bahkan menghubungi Raffi Ahmad melalui video call.
Nama terakhir disebut sempat meminta nomor kontak Diky—membuka peluang bantuan lain, entah dalam bentuk apa.
Di sisi lain, realitas di lapangan tetap tak bisa ditunda.
Hujan deras disertai angin kencang sejak Jumat hingga Sabtu (27–28 Maret 2026) menyebabkan puluhan pohon tumbang, beberapa rumah roboh, dua mobil tertimpa, dan sejumlah kawasan terendam banjir.
Baca Juga:Padel Tarkam Vol.1 di Kota Tasikmalaya Khusus Internal, Hadiah Jutaan MenggiurkanTekan Belanja Pegawai 30 Persen, Pemkot Tasikmalaya Siapkan Strategi Khusus: TPP ASN Akan Dikurangi?
Ironisnya, di saat bencana datang beruntun, ruang fiskal pemerintah daerah justru sedang “dikencangkan”.
Alhasil, upaya penanganan tak bisa hanya mengandalkan APBD—harus kreatif, bahkan jika itu berarti mengandalkan jaringan pertemanan.
Di tengah dinamika itu, Diky masih harus membagi waktu.
Ia sempat meninggalkan Komeng untuk menghadiri acara haul di Ponpes Bahrul Ulum, mewakili wali kota.
Sebuah gambaran klasik pejabat daerah: di satu sisi mengurus bencana, di sisi lain tetap terikat agenda seremonial.
Namun setidaknya, dari peristiwa ini ada satu catatan: ketika jalur formal berjalan lambat, jalur informal kadang justru lebih “gercep”.
Tinggal bagaimana memastikan, bantuan yang datang tak berhenti di seremoni—melainkan benar-benar sampai ke warga yang membutuhkan. (rezza rizaldi)
