Kota Tasikmalaya Dikepung Bencana, Bantuan Komeng Jadi Oase di Tengah Seret Anggaran

bantuan bencana Kota Tasikmalaya dari Kemensos
Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra saat menerima bantuan sosial untuk penanganan bencana dari Anggota DPD RI, Alfiansyah Komeng di Kantor BPBD, Minggu malam (29/3/2026). istimewa for radartasik.id
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Tiga hari dihantam cuaca ekstrem, Kota Tasikmalaya seperti sedang diuji dari segala arah.

Pohon tumbang berserakan, rumah roboh, atap beterbangan, hingga banjir datang tanpa permisi.

Di tengah situasi yang serba terbatas, bantuan tak selalu datang dari jalur yang “resmi”—kadang justru dari jalur pertemanan.

Baca Juga:Padel Tarkam Vol.1 di Kota Tasikmalaya Khusus Internal, Hadiah Jutaan MenggiurkanTekan Belanja Pegawai 30 Persen, Pemkot Tasikmalaya Siapkan Strategi Khusus: TPP ASN Akan Dikurangi? 

Cerita itu bermula saat Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra, didatangi sahabat lamanya, Alfiansyah Komeng, Minggu malam (29/3/2026).

Niat awal sekadar silaturahmi, tapi suasana kota yang sedang “berantakan” membuat obrolan berubah arah—dari basa-basi menjadi aksi.

Diky tak menutup-nutupi kondisi daerahnya. Ia bercerita soal dampak bencana yang terjadi berturut-turut.

Meski bukan bidang komite Komeng di DPD RI, respons yang muncul justru spontan: telepon sana-sini, menghubungi relasi, hingga menjangkau pemerintah pusat.

Tak butuh waktu lama, bantuan tanggap darurat dari Kementerian Sosial Republik Indonesia mulai mengalir melalui Dinas Sosial Jawa Barat dan diteruskan ke Kota Tasikmalaya.

Bantuan itu diserahkan langsung kepada Diky pada Minggu malam di Kantor BPBD.

“Pak Komeng langsung telepon. Dari situ bantuan bergerak. Bahkan dinsos dan BPBD diminta segera kirim data rumah roboh,” ujar Diky.

Bagi Diky, kehadiran Komeng bukan sekadar bantuan logistik.

Baca Juga:Sisa THR ASN Kota Tasikmalaya Cair Awal April, OPD Segera Lakukan PengajuanMesin Pencarian yang Bingung!

Di tengah anggaran daerah yang kian ketat, bantuan itu terasa seperti “mata air di gurun pasir tandus”—ungkapan yang mungkin terdengar puitis, tapi cukup menggambarkan kondisi fiskal daerah saat ini.

Di balik itu, ada pekerjaan rumah yang belum selesai. Data rumah rusak masih terus dihimpun oleh Dinas Sosial dan BPBD.

Harapannya, bantuan lanjutan—terutama untuk perbaikan rumah warga—bisa segera menyusul.

Sementara itu, Komeng sendiri tak banyak berteori. Ia mengaku bergerak karena faktor kedekatan personal, bukan sekadar tugas kelembagaan.

“DPD itu komite, bukan komisi. Kemensos bukan bidang saya. Tapi karena Pak Diky sahabat, dan saya punya kenalan di sana, ya saya bantu,” tuturnya santai.

Ia juga tak menampik, ada motivasi sederhana di balik aksinya: ingin bermanfaat, sekaligus “menabung pahala”, apalagi saat masyarakat sedang tertimpa musibah.

0 Komentar