TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Lebaran sudah lewat. Ketupat sudah habis. Opor tinggal cerita. Tamu sudah pulang. Tapi ada satu yang masih tinggal. Sampah.
Di Kota Tasikmalaya, sampah justru seperti ikut merayakan Lebaran. Datangnya serentak. Perginya lambat. Bahkan tahun ini terasa lebih lama. Bukan sehari. Bukan dua hari. Sampai seminggu setelah Lebaran, tumpukan sampah masih terlihat di banyak titik jalan.
Seolah kota ini belum selesai berhari raya. Padahal upaya sudah dilakukan. Wali Kota Viman Alfarizi Ramadhan pernah menunjukkan komitmennya.
Baca Juga:Suara yang Sempat Menggema, Lalu Menghilang!Pemkot Tasikmalaya Klaim Mendapat Apresiasi atas Penundaan THR ASN!
Ia bahkan rela “mengorbankan” rencana pengadaan mobil dinas. Anggaran dialihkan. Lebih dari Rp3,6 miliar. Hasilnya tidak kecil: 18 kontainer besar. Puluhan kontainer bin untuk petugas “Srikandi”.Dan tiga unit dump truck—meski masih dalam proses datang.
Langkah yang, di atas kertas, terlihat serius. Armada pun ditambah. Nilainya mencapai sekitar Rp3,5 miliar. Artinya, alat ada. Anggaran ada. Kebijakan juga sudah ada. Bahkan kepala dinasnya sudah diganti. Dari Deni Diyana ke Sandy Lesmana.
Logikanya sederhana: alat baru + pimpinan baru = hasil baru. Tapi kenyataannya Sampah masih menumpuk.
Lalu di mana masalahnya? Pertanyaan ini terlalu sering muncul. Dan terlalu jarang dijawab dengan jujur. Karena persoalan sampah bukan hanya soal truk. Bukan hanya soal kontainer. Ia soal sistem.
Lebaran selalu punya pola. Volume sampah naik drastis. Bisa dua kali lipat. Kadang lebih. Rumah tangga menghasilkan lebih banyak. Pasar lebih ramai. Aktivitas meningkat.
Tapi apakah sistem pengangkutan ikut naik kapasitasnya? Seringkali tidak. Truk tetap segitu. Ritase tetap sama. Petugas tetap terbatas. Akhirnya sampah menang.
Masalah kedua: manajemen. Truk boleh baru. Tapi kalau jadwal angkut tidak disiplin, tetap saja terlambat. Kontainer boleh banyak. Tapi kalau titik distribusinya tidak tepat, tetap saja menumpuk di satu tempat. Dump truck boleh mahal. Tapi kalau koordinasi lemah, ia hanya jadi kendaraan mahal yang terlambat datang.
Baca Juga:Diduga Pikun, Lansia Tewas Tersambar Kereta Api Argo Wilis di Perlintasan GarutHalal Bihalal yang Tidak Biasa dari Scooter Tasikmalaya Club!
Masalah ketiga: hilirnya. TPA Ciangir tidak bertambah luas secara signifikan. Pengolahan sampah belum maksimal.Akibatnya? Yang diangkut dari kota menumpuk lagi di ujung sana. Sampah hanya berpindah, bukan selesai.
