Pendekatan seperti ini, dalam teori Brand Identity Prism, lengkap: fisik, relasi, kepribadian, budaya, hingga citra diri. Dan ia menjalankannya. Bukan sekadar konsep.
Tapi itu dulu. Kini, suaranya tidak lagi sekeras itu. Bahkan cenderung menghilang. Tidak ada lagi interupsi yang menggetarkan ruang sidang. Tidak ada lagi kalimat tajam yang membuat pejabat terdiam. Yang ada… lebih banyak diam.
Publik mulai bertanya. Apa yang terjadi. Apakah sistem yang terlalu kuat? Atau kompromi yang mulai mengambil tempat?
Baca Juga:Pemkot Tasikmalaya Klaim Mendapat Apresiasi atas Penundaan THR ASN!Diduga Pikun, Lansia Tewas Tersambar Kereta Api Argo Wilis di Perlintasan Garut
Atau—ini yang paling sering terjadi—realitas politik yang tidak sesederhana idealisme awal?
Harapan publik terhadap Riko sebenarnya sederhana. Tetap jadi dirinya yang dulu.
Yang berani. Yang jujur. Yang sedikit “nakal” dalam arti positif. Karena politik, tanpa suara seperti itu, akan terlalu sunyi. Dan ketika dewan muda mulai ikut sunyi, maka yang hilang bukan sekadar suara. Tapi harapan.
Mungkin ini hanya jeda. Atau mungkin fase belajar. Atau awal dari perubahan arah.
Kita tunggu saja. Apakah Riko akan kembali “bersuara”? Atau memilih menjadi bagian dari kesunyian itu sendiri. (red)
