TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID– Ia datang sebagai harapan. Masih sangat muda. Bahkan bisa disebut terlalu muda untuk ukuran seorang anggota dewan. Tapi justru di situlah daya tariknya. Namanya: Riko Restu Wijaya.
Baru tiga bulan dilantik sebagai anggota DPRD Kota Tasikmalaya periode 2024–2029, ia sudah membuat banyak orang menoleh.
Tidak sekadar hadir. Ia “berbunyi”. Keras. Lantang. Dan tepat sasaran.
Baca Juga:Pemkot Tasikmalaya Klaim Mendapat Apresiasi atas Penundaan THR ASN!Diduga Pikun, Lansia Tewas Tersambar Kereta Api Argo Wilis di Perlintasan Garut
Di ruang paling sakral dalam politik lokal—ruang paripurna—ia aba-aba. Lalu mengangkat tangan. Menginterupsi. Di hadapan wali kota, wakil wali kota, sekda, pimpinan dewan, kepala dinas, hingga unsur Forkopimda.
Ia tidak sedang basa-basi. Ia langsung menyentuh jantung persoalan. Komunikasi. Targetnya jelas: kepemimpinan Viman Alfarizi Ramadhan.
“Kita khawatir jargon Tasik Maju, Harapan Baru menjadi Tasik Maju, Harapan Palsu.” kala itu, kalimatnya jatuh seperti palu. Ruang sidang hening. Sejenak.
Saat itu, Riko bukan tanpa alasan. Ia menyoroti dokumen besar: RPJMD. Arah masa depan kota. Seharusnya disusun bersama. Kolaboratif. Tidak sepihak.
Menurutnya, janji untuk duduk bersama legislatif yang pernah disampaikan sebelum pelantikan belum juga terwujud. Padahal, bagi Riko, DPRD bukan penonton “Kita ingin memberikan ide dan gagasan,” katanya waktu itu.
Ia juga menggarisbawahi satu ironi: di atas kertas bicara kolaborasi, tapi dalam praktik tidak ada ruang diskusi. Sederhana. Tapi menohok.
Siapa sebenarnya Riko? Ia lahir di Tasikmalaya, 24 September 2000. Usianya baru 20-an saat dilantik. Salah satu anggota dewan termuda.
Baca Juga:Halal Bihalal yang Tidak Biasa dari Scooter Tasikmalaya Club!Aksi Dewi-Dewi Polres Garut Bagikan Makanan Gratis Bagi Pemudik
Latar belakangnya tidak jauh dari politik. Ia anak dari H Jani Wijaya—tokoh PPP Kota Tasikmalaya. Ia juga Ketua Fraksi PPP. Memimpin Gerakan Pemuda Ka’bah (GPK) Kota Tasikmalaya.
Pendidikan hukumnya membentuk cara berpikirnya, sistematis, argumentatif. Namun yang membuatnya berbeda adalah gayanya. Ia tidak menjaga jarak. Ia mendatangi mahasiswa. Menemui pendemo. Mendengar langsung. Ia ingin dikenal bukan sebagai “yang terhormat”. Tapi sebagai “yang bisa dihubungi”.
Secara branding politik, Riko nyaris sempurna untuk ukuran generasi baru. Ia Gen Z. Ia punya tagline. Ia aktif di media sosial. Ia turun ke warga—“sambang warga”. Ia membangun citra sebagai teman diskusi, bukan elite.
