Dalam sepak bola modern, fase ini menjadi krusial, mengingat jadwal padat dan tekanan kompetisi yang tidak memberi ruang bagi kesalahan kecil.
Di tengah semua itu, Jung tetap memegang prinsip yang ia yakini sejak awal: gol hanyalah alat, bukan tujuan.
Dan selama bola masih bergulir, ia memilih menempatkan dirinya sebagai bagian dari mesin besar bernama Persib—mesin yang ia harapkan akan melaju hingga garis akhir sebagai juara.
