TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Di tengah masifnya pembentukan Koperasi Merah Putih (KMP) di berbagai daerah, aspek pengawasan dinilai masih menjadi titik rawan yang berpotensi mengganggu keberlanjutan program tersebut.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Siliwangi, Dr Ade Komaludin, menilai persoalan koperasi di Indonesia selama ini bersifat sistemik, terutama pada lemahnya mekanisme kontrol yang berjalan.
Menurutnya, kelemahan tersebut tidak hanya terjadi pada satu jenis koperasi, melainkan hampir merata akibat belum adanya sistem pengawasan yang benar-benar terstruktur dan independen.
Baca Juga:Ahn Hyo Seop dan Kim Bum Bersaing Sengit Demi Chae Won Bin di Teaser Drakor Sold Out on YouJun Ji Hyun Kembali ke Layar Lebar dalam Film Colony, Terjebak di Gedung Saat Wabah Misterius
Dalam praktiknya, menurut dia, masih banyak koperasi yang belum tersentuh pengawasan langsung dari otoritas terkait, khususnya pada koperasi konsumsi.
Sementara itu, pengawasan yang lebih ketat baru diterapkan pada koperasi simpan pinjam dan masih bersifat terbatas karena bergantung pada mekanisme tertentu, termasuk pengajuan dan penetapan status pengawasan.
Kondisi ini, kata dia, kemudian menciptakan ruang yang cukup besar bagi potensi penyimpangan, terutama dalam pengelolaan dana yang melibatkan banyak pihak namun minim kontrol.
“Orang mengelola uang orang lain tanpa diawasi, risikonya pasti besar. Ini berbeda dengan perbankan yang diawasi langsung oleh OJK dan Bank Indonesia,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menilai sistem pengawasan internal yang selama ini mengandalkan Rapat Anggota Tahunan (RAT) belum mampu menjadi alat kontrol yang efektif.
Hal ini karena tidak adanya pemisahan peran yang jelas antara pihak yang mengelola dan yang mengawasi, sehingga fungsi pengawasan cenderung berjalan lemah.
“Anggota itu sekaligus pengguna, pemilik, dan pengawas. Ini seperti ‘jeruk makan jeruk’. Idealnya, pengawasan harus eksternal dan independen,” tegasnya.
Baca Juga:Beli PCX dan ADV Makin Ringan, Honda Kasih Potongan Angsuran Spesial di BekasiDetektif Kontras, Chemistry Meledak: Intip Persaingan Bae Sung Woo dan Jung Ga Ram di Film The Ultimate Duo
Menurut Ade, pola kelemahan tersebut bukan hal baru dan telah berulang dalam berbagai program ekonomi berbasis komunitas.
Ia melihat banyak program yang pada awalnya dirancang dengan konsep baik, namun tidak berjalan optimal karena lemahnya pengawasan sejak tahap awal pelaksanaan.
Selain itu, ia juga menyoroti persoalan permodalan yang berpotensi memengaruhi cara pandang dalam pengelolaan koperasi, terutama jika bersumber dari dana negara.
“Uang negara sering dianggap seperti hibah, sehingga rasa tanggung jawabnya berbeda dibandingkan modal dari anggota,” ungkapnya.
